Awal Mula Kecurigaan Tempat Penemuan Jasad Perwira Korban G30S di Lubang Buaya 54 Tahun yang Lalu

Dalam tragedi mengerikan tersebut, sedikitnya ada 10 nama yang menjadi korban tewas, termasuk 6 jenderal dan seorang perwira.

Awal Mula Kecurigaan Tempat Penemuan Jasad Perwira Korban G30S di Lubang Buaya 54 Tahun yang Lalu
IST via Tribunjogja.com
Jasad Brigjen Soetojo Siswomiharjo sesaat setelah diangkat dari sumur di Lubang Buaya, 4 Oktober 1965 

TRIBUN-BALI.COM - Penghujung bulan September, 54 tahun silam, sebuah tragedi berdarah dilakukan oleh oknum pengkhianat negara.

Peristiwa yang sekarang kita kenal dengan G30S/PKI merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia.

Dalam tragedi mengerikan tersebut, sedikitnya ada 10 nama yang menjadi korban tewas, termasuk 6 jenderal dan seorang perwira.

Selain tujuh jenderal TNI di atas, PKI juga menghabisi sejumlah anggota TNI dan Polri lain seperti AIP Karel Satsuit Tubun, Kapten Pierre Tendean, dan Kolonel Sugiono.

Kita sekarang mengenang 10 korban peristiwa G30S/PKI tersebut sebagai Pahlawan Revolusi.

Bahkan, putri jenderal TNI AH Nasution, Ade Irma Suryani Nasution juga harus tewas karena ditembak PKI.

Gugurnya beberapa tentara saat gerakan 30 September alias G30S/PKI membuat presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno menjadi bersedih.

Kesedihan Presiden Soekarno atas korban G30S/PKI diungkap dalam buku bertajuk 'Maulwi Saelan Penjaga Terakhir Soekarno', Penerbit Buku Kompas 2014.

Maulwi yang merupakan pengawal pribadi Bung Karno, mengatakan kalau presiden Soekarno sangat sedih sekali atas nasib yang menimpa para jenderal TNI yang diculik.

“Presiden sedih sekali atas nasib para jenderal yang diculik, khususnya Jenderal Ahmad Yani, jenderal yang amat disayanginya.

Halaman
1234
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved