Kapal Motor Senilai Rp 2,5 Miliar Hancur, BPBD Buleleng Usulkan Pengadaan Perahu Karet

Kapal Motor (KM) Katamaran hancur dihantam gelombang tinggi, BPBD Buleleng coba mengusulkan pengadaan perahu karet

Kapal Motor Senilai Rp 2,5 Miliar Hancur, BPBD Buleleng Usulkan Pengadaan Perahu Karet
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Ida Bagus Suadnyana. Kapal Motor Senilai Rp 2,5 Miliar Hancur, BPBD Buleleng Usulkan Pengadaan Perahu Karet 

Kapal Motor Senilai Rp 2,5 Miliar Hancur, BPBD Buleleng Usulkan Pengadaan Perahu Karet

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Panjang pantai di Buleleng yang mencapai 144 kilometer membuat wilayah ini rawan terjadi bencana laut.

Untuk itu, tahun depan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng coba mengusulkan pengadaan perahu karet (rubber boat).

Usulan ini akan disampaikan ke pemerintah provinsi maupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Ida Bagus Suadnyana mengatakan, sebelumnya pihaknya sudah memiliki satu unit Kapal Motor (KM) Katamaran dilengkapi dua mesin, berkapasitas 150 PK.

Namun pada awal Januari 2019 lalu, kapal senilai Rp 2,5 miliar itu hancur akibat dihantam gelombang tinggi.

Karena dinilai rusak permanen, kapal itu pun telah dihapus dari aset Pemkab Buleleng.

"Ya kapal yang dulu itu memang bobotnya sangat berat, sekitar 2.5 ton. Jadi sulit untuk diamankan ketika ada gelombang tinggi. Hanya bisa digeser di wilayah laut saja," jelasnya, Rabu (2/10/2019).

Setelah KM Katamaran hancur dihantam gelombang, BPBD Buleleng tidak memiliki kapal untuk penanganan becana di laut sehingga harus bekerjasama dengan Basarnas.

Untuk itu, pada 2020 mendatang, Suadnyana mengaku akan mencoba mengusulkan ke pemerintah provinsi atau BNPB, terkait pengadaan satu unit perahu keret agar dapat membantu tim saat melaksanakan tugas-tugas di lapangan.

Perahu karet dipilih karena ukurannya yang lebih kecil sehingga bisa dibawa kemana-mana dengan menggunakan truk.

"Setelah di lokasi kan bisa diisi angin. Jadi lebih mudah dibawa. Mesinnya juga lebih kecil. Risiko rusaknya lebih sedikit," jelasnya.

Bila saja usulan ini tidak diterima oleh pemerintah provinsi, Suadnyana mengaku akan mencoba mencari celah lain untuk membeli satu unit perahu karet tersebut.

"Mudah-mudahan bisa dipenuhi. Kalau tidak bisa, ya kami akan coba lihat dulu berapa sih harganya. Kalau tidak salah ada di kisaran Rp 100 juta. Kemudian nanti akan coba kami diskusikan dengan Bupati," tuturnya.

(*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved