Sempat Berjaya, Perajin Patung Kayu di Singakerta Gulung Tikar Karena Gaya Hidup Konsumtif

Banyak pengusaha patung kayu di Singakerta Ubud yang gulung tikar, diduga karena gaya hidup dan tak kuat melawan tekanan konsumen.

Sempat Berjaya, Perajin Patung Kayu di Singakerta Gulung Tikar Karena Gaya Hidup Konsumtif
Tribun Bali/Eri Gunarta
Dewa Nyoman Wartawa di antara sejumlah kerajinan yang dijual di Merta Sari Art Shop, Rabu (2/10/2019). 

“Karena harga yang ditawarkan turun, dalam mencari keuntungan pengusaha menekan para pematung. Misalnya, keuntungan 10 ribu tidak dicari pada konsumen, tapi keuntungan itu dicari dengan menurunkan upah perajin,” ujarnya.

Seleksi Ketat Para Perajin
Selain itu, para pengusaha melakukan seleksi ketat terhadap perajin. Sebelum terjadinya obral harga, para perajin bisa bekerja secara leluasa.

Meskipun kondisi barangnya patah, kata dia, tetap dibayar dengan harga normal sebab dengan keuntungan yang waktu itu mencapai 500-600 persen, penjualan satu kerajinan sudah sudah menutupi kerugian lebih dari dua patung.

“Dulu waktu masih jaya, barang seperti apapun dikasi tetap diterima. Setelah merosot, hasil karya pematung diseleksi ketat. Misalnya mengerjakan 10 buah karya, bisa-bisa hanya enam karya yang diambil, sisanya pematung yang rugi,” ujar Wartawa.

Kondisi tersebut mengakibatkan para perajin jengah dan memilih beralih profesi.

Bahkan Dewa Wartawa yang ikut menerapkan seleksi ketat karena tekanan persaingan, pernah ditinggalkan perajin ketika orderannya banyak.

“Saya pernah ditinggal tajen sama perajin saya karena penghasilan di tajen lebih besar. Dan sekarang dampaknya benar-benar terasa, orang tua tak mengizinkan anaknya jadi perajin karena masa depan tak meyakinkan. Para orang tua juga sekarang memilih profesi lain, jadi tukang bangunan karena pendapatannya lebih baik,” ujarnya. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved