Jelang Pelantikan Presiden 20 Oktober 2019 Nanti, Cok Ace Sebut Bali Kondusif

- Menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI pada 20 Oktober mendatang, Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana

Jelang Pelantikan Presiden 20 Oktober 2019 Nanti, Cok Ace Sebut Bali Kondusif
Tribun Bali/Wema Satya Dinata
Gema Perdamaian-Suasana acara puncak Gema Perdamaian ke-17 di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar, Sabtu (5/10/2019) malam.   

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI pada 20 Oktober mendatang, Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) mengatakan situati keamanan Bali Kondusif.

 
“Astungkara apa yang saya dengar dari Polda, Pangdam, Bali sangat kondusif.

Saya imbau kepada masyarakat Bali yang sangat menjunjung tinggi persatuan dan toleransi, maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan,” kata Cok Ace usai menghadiri Puncak Gema Perdamaian ke-17 di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar, Sabtu (5/10/2019) malam.

 
Namun kalau ada pihak-pihak yang mempunyai pikiran-pikiran intoleransi, ia memohon siapapun dia agar kembali ke jalan yang benar.

 
Acara Gema Perdamaian yang ke-17 kali yang telah diikutinya dari sejak awal  bertujuan untuk mengingatkan dan menyadarkan kembali bahwa damai itu indah.

 
“Pesan itu yang ingin disampaikan. Kita pernah mengalami peristiwa kemanusiaan (bom Bali), dan kita berharap itu tidak akan pernah terjadi lagi,” jelasnya.

 
Maka setiap tahunnya pesan itu terus diingatkan lagi, agar masyarakat tidak lupa seiring berjalannya waktu.

 
Di sisi lain, ia menyebut Kerukunan akan terwujud bila masyarakat mampu memberikan cinta kasih, saling menghormati dan mengembangkan sikap toleransi antar umat beragama.

 
Gerakan separatisme, radikalisme dan terorisme masih terus menjadi ancaman bersama.

Selain itu, ujaran kebencian, berita bohong, intoleransi dan penghinaan terhadap simbol-simbol negara di ruang  publik, serta mudahnya masyarakat terprovokasi untuk melakukan aksi anarkis masih terus terjadi dan mengikis nilai-nilai persatuan Bangsa.

 
Contohnya insiden di Malang, Surabaya dan Semarang yang berimbas terjadinya kerusuhan di beberapa Kota di Papua dan Papua Barat merupakan  bukti nyata betapa pentingnya menjaga rasa persaudaraan dan sikap saling menghargai saat sekarang ini.

 
“Janganlah mudah terprovokasi dengan hasutan kebencian dan berita bohong yang sering muncul dari media sosial dan lainnya,” imbaunya.

 
Jika rasa persatuan diantara anak bangsa kuat, maka ia meyakini konflik karena perbedaan dapat dengan mudah disisihkan, dan Perdamaian akan terus tumbuh. 

 
“Dengan demikian kita akan memiliki kelenturan untuk menghindari perselisihan,” imbuhnya. (*)

Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved