Lumpuh dan Tunawicara Mampu Hasilkan Ratusan Lukisan, Kiprah Penyandang Disabilitas di FKB

I Gede Agus Mertayasa ikut berpartisipasi dalam Festival Kesenian Bali (FKB) Penyandang Disabilitas, keterbatasan fisik tak menghalangi kreativitasnya

Lumpuh dan Tunawicara Mampu Hasilkan Ratusan Lukisan, Kiprah Penyandang Disabilitas di FKB
Tribun Bali/M Firdian Sani
Produktif - I Gede Agus Mertayasa (21) didampingi ayahnya, Ketut Sudana di pameran lukisan dalam rangka Festival Kesenian Bali (FKB), di Taman Budaya Bali, Denpasar, Bali, Jumat (4/10/2019). 

"Jangan para penyandang disabilitas lantas dikucilkan dan dipisahkan dari mereka yang beruntung dikarunia fisik yang sempurna," ujar Ny Putri Koster.

Mengawali sambutannya, Putri Koster menyampaikan rasa haru dan bangga karena bisa hadir di tengah-tengah para seniman luar biasa.

Menurut wanita yang dikenal sebagai seniman panggung ini, kemampuan berkesenian para penyandang disabilitas tak kalah dengan mereka yang dikaruniai kesempurnaan fisik.

"Kurangnya kan hanya sedikit yaitu di raga, sedangkan jiwa dan semangatnya belum tentu kalah," ujarnya.

Ibu dua putri ini menambahkan, dalam berkesenian, para penyandang disabilitas tak mesti seratus persen meniru mereka yang memiliki kesempurnaan fisik.

Ia lantas mencontohkan salah satu jenis tarian yakni tari penyambutan panyembrahma yang di awal acara dibawakan oleh penari di atas kursi roda.

"Jika punya kekurangan di kaki, penari bisa menekankan gerakan tangan, kepala dan seledetan mata. Seperti yang dilakukan anak-anak tadi. Itu menjadi daya tarik luar biasa. Harus disiasati, karena kreativitas itu justru muncul karena keadaan," tambahnya.

Oleh sebab itu, ia mendorong para seniman disabilitas jangan pernah surut dalam mengasah kemampuan.

"Yang punya bakat megambel, latih megambel. Yang berbakat menari, silakan belajar menari," dorongnya.

Pada bagian lain, Putri Koster melontarkan ide pembangunan kampung disabilitas.

Menurutnya, akan sangat luar biasa kalau Bali bisa mewujudkan sebuah tempat khusus bagi penyandang disabilitas, di mana semua kegiatan mereka dilaksanakan di sana.

"Bukan untuk memisahkan mereka, tapi di sana tempat mereka berkiprah, mengasah keterampilan dan ajang memasarkan hasil kreativitas mereka," paparnya.

Lebih dari itu, keberadaan kampung disabilitas akan mengoptimalkan upaya pengembangan potensi mereka. 

"Misalnya mereka butuh seniman untuk melatih, kita datangkan ke sana," ujarnya sembari berharap idenya itu bisa segera terwujud.

(*)

Penulis: M. Firdian Sani
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved