Breaking News:

Serba serbi

Jadwal Rerahinan Selama Bulan Oktober 2019 Beserta Makna dan Sarana Upakaranya

Pada bulan Oktober 2019 ini, terdapat tujuh hari raya atau rerahinan umat Hindu di Bali.

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/Rizal Fanany
Orangutan dikasih bija oleh pemangku saat upacara Tumpek Kandang di Bali Zoo, Gianyar, Sabtu (20/1). 

Artinya saat Pancawara Kliwon, merupakan payogan atau beryoganya Bhatara Siwa.

Pada saat ini sepatutnya melakukan penyucian dengan mempersembahkan wangi-wangian bertempat di merajan, dan di atas tempat tidur.

Sedangkan di halaman rumah, halaman merajan dan pintu keluar masuk pekarangan rumah, patut juga mempersembahkan segehan kepel dua kepel menjadi satu tanding, dan setiap tempat tersebut, disuguhkan tiga tanding yaitu: 

TRIBUN-WIKI – 12 Desa/Kelurahan di Kabupaten Tabanan Masuk dalam Daftar Bahaya Kelas Tinggi Tsunami

TRIBUN WIKI - Ini 3 Hotel Four Points yang Ada di Bali

Di halaman merajan, kepada Sang Bhuta Bhucari.

Di pintu keluar masuk, kepada Sang Durgha Bhucari.

Untuk di halaman rumah, kepada Sang Kala Bhucari.

Maksud persembahan berupa labaan setiap Kliwon ini untuk menjaga agar pekarangan serta keluarga semuanya mendapat perlindungan dan menjadi sempurna.

Sementara untuk Kajeng Kliwon juga disebutkan:

Kadi ring keliyon nemu atutan kewala tambahane sega warna limang warna, dadi awadah, ring dengen juga genahing caru ika, ika sanding lawang ring luur, aturane canang lenga wangi burat wangi, canang gantal, astawakna ring Durga Dewem, ne ring sor, ring Durga Bucari, Kala Bucari buta Bucari, palania ayu paripurna sira aumah, yania tan asiti mangkana I Buta Bucari, aminta nugeraha ring Bhatari Durga Dewem, mangerubadin sang maumah, angadakakan desti, aneluh anaranjana, mangawe gering sasab merana, apasang pengalah, pamunah ring sang maumah, muang sarwa Dewa kabeh, wineh kinia katadah da waduanira Sang Hyang Kala, nguniweh sewaduanire Dewi Durga, tuhunia mangkana, ayua sira alpa ring wuwus manai.

Artinya:

Sementara itu pada hari raya Kajeng Kliwon, untuk upakaranya sama seperti  pada hari Pancawara Kliwon, hanya tambahannnya yaitu segehan lima warna lima tanding. 

Pada samping kori sebelah atasnya dipersembahkan canang wangi-wangi, burat wangi, canang yasa, dan yang dipuja ialah Hyang Durga Dewi.

Yang disuguhkan di bawah untuk Sang Durga Bhucari, Kala Bhucari, Bhuta Bhucari, dengan tujuan agar berkenan memberikan keselamatan kepada penghuni rumah. 

Jika tidak melakukan hal itu, maka Sang Kala Tiga Bhucari akan memohon penugrahan kepada Bhatara Durga Dewi, untuk mengganggu penghuni rumah, dengan jalan mengadakan gering atau penyakit dan mengundang kekuatan black magic, segala merana, mengadakan pemalsuan, yang merajalela di rumah, yang mana mengakibatkan perginya para Dewata semuanya, dan akan memberi kesempatan para penghuni rumah disantap oleh Sang Hyang Kala bersama-sama dengan abdi Bhatara Durgha. 

TRIBUN WIKI - Ida Bagus Ketut Wedana, Cicipi Panggung Negeri Ginseng Berkat Palawakya

Dilapori Warganya Uang Hilang Secara Misterius, Ketua RW Bikin Selebaran Minta Tuyul Pensiun

3. Tumpek Kandang

Sabtu (12/10/2019) merupakan hari raya Tumpek Kandang atau juga disebut Tumpek Uye.

Hari raya ini merupakan hari selamatan untuk hewan khususnya hewan ternak.

Tumpek Uye ini jatuh setiap enam bulan atau 210 hari sekali tepatnya saat Saniscara (Sabtu) Kliwon wuku Uye.

Selain itu, Tumpek Uye ini juga disebut Tumpek Wewalungan atau Oton Wewalungan.

Dalam Lontar Sundarigama disebutkan:

Uye, Saniscara Kliwon, Tumpek Kandang, pakerti ring sarwa sato, patik wenang paru hana upadanania, yan ia sapi, kebo, asti, saluwir nia sato raja.

Ini berarti pada Saniscara Uye merupakan Tumpek Kandang untuk mengupacarai semua jenis binatang baik ternak maupun binatang lainnya. Upacaranya untuk sapi, kerbau, gajah, dan binatang besar lainnya. 

Disebutkan pula kalingania iking widhana ring manusa, amarid saking Sang Hyang Rare Angon, wenang ayabin, pituhun ya ring manusa, sinukmaning sato, paksi, mina, ring raganta wawalungan, Sang Hyang Rare Angon, sariranira utama.

Upacara maupun bantennya sama seperti mengupacarai manusia karena binatang-binatang itu dijiwai oleh Sang Hyang Rare Angon.

Manusia itu adalah makhluk utamanya daripada binatang-binatang seperti, burung, ikan, dan sebagainya, demikianlah Sang Hyang Rare Angon menjadikan sarwa binatang sebagai badan utama Beliau.

Untuk upakara yang digunakan juga dijelaskan dalam Lontar Sundarigama.

Widi-widanania, suci, daksina, peras, penek ajuman sodaan putih kuning, canang lenga-wangi burat wangi, penyeneng pasucian, astewakne ring sanggar, pengarcane ring sang Hyang Rare Angon. Kunang ring sarwa pasu, patik wenang ane pengacinia, yan sopi kebo, widi-widanania, tumpeng sesayut abesik, penyeneng, reresik, jarimpen canang raka, yan bawi lua, tipat belekok, yan sarwa paksi, sato, itik, angsa, puter, titiran, saluwiring tipat sida purna, tipat bagia, tipat pandawe, dulurane penyeneng tatenus. 

 

Pertunjukan, Musik, Maupun Seminar Sastra Internasional, Ini Acara Seni & Budaya Pekan Depan di Bali

Pura Madia di Lereng Gunung Agung Hangus Terbakar, BPBD Karangasem Ungkap Penyebabnya Ini

Artinya: 

Banten untuk ternak jantan yaitu tumpeng, sesayut 1, panyeneng, reresik, jerimpen, canang raka, sedangkan banten untuk ternak betina sama seperti ternak jantan hanya ditambah ketipat belekok blayag, pesor dan untuk bangsa burung atau unggas yaitu ketupat kedis, ketupat sidha purna, bagia, penyeneng, tetebus kembang payas.

4. Purnama Kapat

Purnama Kapat dilaksanakan pada Minggu (13/10/2019).

Purnama ini jatuh pada bulan kedua dalam sistem kalender Bali.

Hari Raya Purnama ini diperingati sebulan sekali yaitu saat bulan penuh atau sukla paksa. 

Dalam lontar Sundarigama dikatakan bahwa Purnama merupakan payogan Sang Hyang Candra. 

Terkait purnama ini disebutkan:

Mwah hana pareresiknira sang hyang rwa bhineda, makadi sang hyang surya candra, yatika nengken purnama mwang tilem, ring purnama sang hyang ulan mayoga, yan ring tilem sang hyang surya mayoga. 

Artinya:

Ada lagi hari penyucian diri bagi Dewa Matahari dan Dewa Bulan yang juga disebut Sang Hyang Rwa Bhineda, yaitu saat tilem dan purnama.

Saat purnama adalah payogan Sang Hyang Wulan (Candra), sedangkan saat tilem Sang Hyang Surya yang beryoga.

Lebih lanjut dalam lontar Sundarigama disebutkan:

Samana ika sang purohita, tkeng janma pada sakawanganya, wnang mahening ajnana, aturakna wangi-wangi, canang nyasa maring sarwa dewa, pamalakunya, ring sanggat parhyangan, laju matirta gocara, puspa wangi. 

Purnama juga merupakan hari penyucian diri lahir batin.

Oleh karena itu semua orang wajib melakukan penyucian diri secara lahir batin dengan mempersembahkan sesajen berupa canang wangi-wangi, canang yasa kepada para dewa, dan pemujaan dilakukan di Sanggah dan Parahyangan, yang kemudian dilanjutkan dengan memohon air suci.

Selain itu Purnama juga merupakan hari baik untuk melakukan dana punia.

Menari di Atas Beling Curi Perhatian Penonton, Minangkabau Heritage Hadir di Level 21 Mall  Denpasar

Dana Buzzer Pemerintah Rp 1,4 Triliun, Peneliti: Berada di Level High Capacity

5. Buda Wage Menail

Dirayakan pada Rabu (16/10/2019).

Buda Wage Menail ini dirayakan setiap enam bulan sekali dan merupakan hari raya berdasarkan wuku yaitu Menail dan pertemuan antara Saptawara Rabu (Buda) dan Pancawara Wage.

Terkait Buda Wage atau Buda Cemeng ini, dalam Lontar Sundarigama disebutkan: 

Buda Wage, ngaraning Buda Cemeng, kalingania adnyana suksma pegating indria, Betari Manik Galih sira mayoga, nurunaken Sang Hyang Ongkara mertha ring sanggar, muang ring luwuring aturu, astawakna ring seri nini kunang duluring diana semadi ring latri kala.

Artinya: 

Buda Wage juga disebut Buda Cemeng.

Pada saat ini seseorang diharapkan mewujudkan inti hakekat kesucian pikiran, yakni bisa mengendalikan sifat-sifat kenafsuan.

Itulah yoga dari Bhatari Manik Galih, dengan jalan menurunkan Sang Hyang Omkara Amerta atau inti hakekat kehidupan, ke dalam dunia skala atau dunia manusia.

Adapun upakara yang dipersembahkan saat Buda Cemeng ini yakni wangi-wangian.

Melakukan pemujaan di sanggar dan di atas tempat tidur serta menghaturkan kepada Sang Hyang Sri.

Pada malam harinya melakukan renungan suci.

Pada hari ini juga merupakan pujawali atau odalan di Pura Tanah Lot, Desa Beraban, Kediri, Tabanan.

6. Kajeng Kliwon Uwudan

Dilaksanakan pada Kamis (17/10/2019).

Kajeng Kliwon Uwudan ini adalah Kajeng Kliwon yang diperingati setelah Purnama.

Kajeng Kliwon Uwudan merupakan hari baik untuk menghidupkan ilmu hitam atau pengiwa.

Situs Petirtan yang Diduga Era Majapahit, Arkeolog Temukan Tengkorak Manusia Dekat Arca Garuda

7. Hari Bhatara Sri

Pada Jumat (18/9/2019) umat Hindu di Bali juga merayakan hari Bhatara Sri.

8. Tilem Kapat

Dirayakan pada Senin (28/10/2019).

Menurut Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Putu Eka Guna Yasa, pemujaan kepada gelap atau Tilem itu jelas sekali ditujukan kepada Siwa.

Menurutnya, dalam Jnyana Sidantha disebutkan di dalam matahari ada suci, di dalam suci ada siwa, di dalam siwa ada gelap yang paling gelap.

Hal itulah yang menyebabkan tilem mendapatkan pemuliaan.

Guna mengatakan di daerah Bangli ada Pura Penileman, dimana setiap Tilem dilakukan pemujaan di sana.

"Di Pura Penileman dilakukan pemujaan kepada Siwa, karena ada warga masyarakat yang nunas (meminta) pengidep pati atau sarining taksu jelas sudah Siwa. Bukti arkeologis ada arca Dewa Gana yang merupakan putra Siwa,” katanya.

Sehingga dalam konteks kebudayaan di Bali yang dimuliakan bukan bulan terang saja atau Purnama, tapi gelap yang paling gelap juga dimuliakan.

Sementara itu, dalam buku Sekarura karya IBM Dharma Palguna halaman 9 dikatakan, kepada kita para Guru Kehidupan (dan Guru Kematian) mengajarkan agar menghormati gelap, tidak kurang dari hormat pada terang.

Hormat pada gelapnya bulan mati (Tilem) tidak kurang dari hormat kita pada terang bulan purnama.

Disebutkan lebih lanjut dalam buku itu pada halaman 10, pembelaan Mpu Tan Akung kepada gelap yaitu gelap tidak harus dihindari atau diusir dengan mengadakan terang buatan.

Tapi dengan memasukinya, menyusupinya, meleburkan diri di dalamnya, atau memasukkannya ke dalam diri.

Saat Tilem atau bulan mati, umat Hindu wajib untuk mengenyahkan segala dosa, noda, dan kekotoran dari dalam diri.

Dalam lontar Sundarigama juga disebutkan.

Iwan Fals: Luar Biasa Pak Presiden Kita Ini, Lalu Singgung Kekuasaan Bung Karno dan Soeharto

Mwang tka ning tilem, wenang mupuga lara roga wighna ring sarira, turakna wangi-wangi ring sanggar parhyangan, mwang ring luhur ing aturu, pujakna ring sanggar parhyangan, mwang ring luhur ing aturu, pujakna ring widyadari widyadara, sabhagyan pwa yanana wehana sasayut widyadari 1, minta nugraha ri kawyajnana ning saraja karya, ngastriyana ring pantaraning ratri, yoga meneng, phalanya lukat papa pataka letuh ning sarira.

Artinya:

Pada saat Tilem, wajib menghilangkan segala bentuk dosa, noda, dan kekotoran dalam diri. 

Dengan menghaturkan wangi-wangian di sanggar atau di parahyangan, dan di atas tempat tidur, yang dipersembahkan kepada bidadari dan bidadara.

Akan lebih baik jika mempersembahkan 1 buah sesayut widyadari untuk memohon anugerah agar terampil dalam melaksanakan segala aktivitas.

Pemujaan dilakukan tengah malam dengan melakukan yoga, atau hening.

Pahalanya adalah segala noda dan dosa yang ada dalam diri teruwat. (*) 
    

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved