Liputan Khusus

Fakta di Balik Penyelundupan Penyu di Bali, Masih Pemain Lama & Ada 3 Jalur Perdagangan Ilegal Ini

Kasus penyelundupan penyu hijau di Bali masih kerap terjadi. Dari data Badan Pengelola Sumber Daya Pesisir dan Laut (BSPL) Denpasar, ada beberapa temp

Fakta di Balik Penyelundupan Penyu di Bali, Masih Pemain Lama & Ada 3 Jalur Perdagangan Ilegal Ini
dok/ist
Tabrak pohon – Mobil yang mengangkut penyu menghantam pohon di Jalan Sunset Road depan Kantor Pos Legian Kuta, Badung, Senin (30/9/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -- Kasus penyelundupan penyu hijau di Bali masih kerap terjadi.

Dari data Badan Pengelola Sumber Daya Pesisir dan Laut (BSPL) Denpasar, ada beberapa tempat yang digunakan sebagai jalur perdagangan penyu secara ilegal di Bali.

Pertama, jalur Bali Utara di Bon Dalem Buleleng, dan Karangasem.

Kedua di Bali Selatan, yaitu di Serangan.

Ketiga di Bali Barat, tepatnya melalui Pelabuhan Gilimanuk, dengan daging yang sudah dipotong.

Sedangkan, berdasarkan data BKSDA Bali, perdagangan penyu ilegal di Bali berasal dari Madura.

Penyu-penyu itu dibawa menuju Bali dengan kapal nelayan dan turun di Karangasem, Jembrana serta Buleleng.

Setelah tiba di Bali, penyu dibawa ke daerah Badung dan Denpasar melalui jalur darat dengan menggunakan truk.

“Tren saat ini masuk ke Bali sudah dalam bentuk daging yang dipotong-potong,” kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Gianyar, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Sulistyo Widodo.

Ketewel, Gianyar, adalah desa yang paling dikenal menjual masakan olahan daging penyu di Bali.

Halaman
1234
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved