Hingga September 2019, 88 Anak Alami Kasus Berhadapan dengan Hukum

Kekerasan seksual terhadap anak kini kembali menggema ke permukaan setelah sebuah kasus terungkap di sebuah panti asuhan di Gerokgak

Hingga September 2019, 88 Anak Alami Kasus Berhadapan dengan Hukum
Dok Pribadi Ni Luh Gede Yastini
Divisi Hukum dan Advokasi KPPAD Bali Ni Luh Gede Yastini 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kekerasan seksual terhadap anak kini kembali menggema ke permukaan setelah sebuah kasus terungkap di sebuah panti asuhan di Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali.

Pelakunya tak lain adalah ketua yayasan tersebut dengan tiga anak yang telah jadi korban.

Kasus ini nampaknya menambah sejumlah deretan kasus lainnya di Bali.

Komisi Pengawasan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Bali mencoba merangkum pemberitaan media mengenai kasus anak yang berhadapan dengan hukum sepanjang tahun 2019.

Divisi Hukum dan Advokasi KPPAD Bali Ni Luh Gede Yastini mengatakan, data yang masuk hingga September 2019 ada sebanyak 88 anak yang berhadapan dengan hukum.

Tari Legong Dedari di Banjar Pondok Peguyangan Kaja, Ditampilkan Khusus Saat Ratu Ayu Mesolah

Grab Diduga Tersandung Perkara, Hotman Paris Ditunjuk Jadi Pengacara

Sebanyak 88 anak itu tak hanya sebagai korban, tetapi juga sebagai pelaku.

"Ini masih data sekunder karena based on media, kalau data pastinya itu bisa kami sampaikan pada akhir tahun baru bisa dirangkum baik dari kepolisian maupun lembaga pemberi layanan," jelasnya saat dihubungi Tribun Bali, Selasa (8/10/2019).

Yastini menjelaskan, guna mencegah terjadinya kasus kekerasan seksual terhadap anak, dibutuhkan kesadaran dari berbagai pihak, terutama orangtua.

Mendagri Kembali Tetapkan Banyuwangi sebagai Kabupaten Terinovatif Se-Indonesia

Banyak Juga Suami Jadi Korban KDRT Sang Istri, Ini Kasus Paling Menonjol

Orangtua, kata dia, harus mulai dari sekarang memberikan edukasi kepada anak soal kesehatan reproduksi.

"Artinya, anak harus diberikan informasi bagaimana bagian tubuh yang enggak boleh dipegang, bagaimana kalau ada yang menjahati kamu (anak), kamu (anak) harus berani mengadu ke orangtua. Nah itu penting," jelasnya.

Di sisi lain, orangtua juga harus memperhatikan perubahan anaknya serta masyarakat juga harus mengawasi anak-anak, ketika ada hal yang dianggap janggal maka harus berani melaporkan. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved