Agar Wisatawan Tak Kecewa, Banjar Petulu Kaler Ubud Akan Lakukan Penangkaran Burung Kokokan

Banjar Petulu Kaler, Desa Petulu, Ubud, Gianyar, menjadi satu-satunya destinasi wisata yang menyajikan burung kokokan

Agar Wisatawan Tak Kecewa, Banjar Petulu Kaler Ubud Akan Lakukan Penangkaran Burung Kokokan
Tribun Bali/Nyoman Mahayasa
Ribuan burung kokokan hinggap di pepohonan dan rumah warga di sepanjang Desa Petulu, Gianyar, Selasa (8/10/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Banjar Petulu Kaler, Desa Petulu, Ubud, Gianyar, menjadi satu-satunya destinasi wisata yang menyajikan burung kokokan.

Burung tersebut tidak hanya dijaga kelestariannya, tetapi juga dihormati dan disucikan oleh masyarakat.

Meskipun kesehariannya ribuan burung kokokan ini bersarang di pepohonan Banjar Petulu Kaler, namun wisatawan tidak sewaktu-waktu dapat melihatnya.

Dalam mengantisipasi kekecewaan wisatawan, Kelian Banjar Petulu Kaler, I Made Rawa, mengatakan saat ini tengah melakukan upaya penangkaran.

Namun penangkaran ini hanya dilakukan pada kokokan yang usianya masih kecil. Ketika memasuki usia dewasa, akan kembali dibebasliarkan.

Tak hanya itu, guna memberikan privasi pada wisatawan dan masyarakat, pihaknya sempat berusaha memindahkan kokokan ini ke hutan desa dan tidak lagi bersarang di pepohonan yang berada di jalan dan perumahan warga.

Namun upaya pemindahan ini belum berhasil meskipun pihaknya telah melakukan langkah secara niskala.

“Kami sudah melakukan langkah niskala, tapi tetap saja kokokannya tidak mau pindah ke hutan desa. Masih tetap di pohon pinggir jalan dan rumah-rumah warga,” ujarnya, Selasa (8/10/2019).

Menurut Rawa, ribuan burung kokokan hanya bisa dilihat sepanjang hari di banjarnya ketika tengah musim bertelur, tepatnya pertengahan Oktober sampai Maret.

Di luar bulan tersebut, kata dia, kawanan kokokan ini akan pergi dari pukul 06.00 Wita untuk mencari makanan dan kembali ke sarangnya saat petang.

Selama ini, kata dia, kunjungan wisatawan untuk melihat kokokan di banjarnya relatif sedikit. Kondisi tersebut disebabkan tidak selarasnya bulan kunjungan wisatawan.

Selama ini, kebanyakan wisatawan berkunjung ke Bali pada bulan Juli-Agustus.

Karena itu, tak sedikit wisatawan yang kecewa lantaran ketika berkunjung mereka tak menemukan kerumunan burung kokokan seperti yang dipromosikan di brosur iklan.

“Wisatawan biasanya datang pas Juli-Agustus karena pada bulan itu lagi tidak musim bertelur. Jadinya jam enam pagi kokokannya sudah sepi. Saat ini sudah mulai memasuki musim bertelur, semoga saja ada wisatawan yang datang,” ujarnya. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved