Bekraf Kembangkan Kota Kreatif Berbasis 16 Sub Sektor, IACF 2019 Diselenggarakan di Bali

Kunci sukses bagi kemajuan industri kreatif di Indonesia adalah sumber daya dan potensi keunggulan lokal

Bekraf Kembangkan Kota Kreatif Berbasis 16 Sub Sektor, IACF 2019 Diselenggarakan di Bali
Tribun Bali/Wema Satyadinata
Beri Sambutan - Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia, Triawan Munaf saat memberikan sambutan dalam acara Indonesia Architecture Creative Forum (IACF) 2019 di Rumah Sanur Creative Hub, Denpasar, Bali, Jumat (11/10/2019). Bekraf Kembangkan Kota Kreatif Berbasis 16 Sub Sektor, IACF 2019 Diselenggarakan di Bali 

Kekayaan budaya, adat istiadat, arsitektur, bahasa, maupun keindahan alam yang dimiliki Indonesia bisa dikatakan luar biasa. 

Apabila potensi ini dikembangkan secara maksimal melalui proses yang benar, maka akan menghasilkan sustainable creative economy bagi kabupaten/kota di Indonesia. 

Di sisi lain, yang perlu diperhatikan adalah mengenai peran kepala daerah yang sangat penting dalam pengembangan ekonomi kreatif di daerahnya. 

Oleh karena itu, diperlukan pemimpin daerah berjiwa entrepreneurial leadership (pemimpin yang memiliki jiwa kewirausahaan) yang tinggi dan mampu melihat potensi industri kreatif, serta menggerakkan masyarakatnya untuk bersama-sama memajukan ekonomi kreatif di kota/kabupaten yang dipimpinnya. 

Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra mengatakan, sebuah kehormatan bagi Denpasar ditunjuk menjadi tempat penyelenggaraan IACF 2019. 

“Sebelum istilah ekonomi kreatif populer seperti sekarang ini, industri kreatif telah menjadi tulang punggung ekonomi Bali sejak lama. Walaupun begitu, bukan berarti kami berleha-leha. Melalui ajang ini, kami yakin akan dapat menambah amunisi untuk memajukan industri kreatif yang telah ada,” kata Rai Mantra.

Sementara itu, Ketua panitia IACF 2019 Yuwono Imanto yang juga menjabat sebagai Direktur PT Propan Raya sekaligus Dewan Pengarah Indonesia Creative Cities Network, menjelaskan bahwa dipilihnya tema ini karena ingin mewujudkan industri kreatif menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.

“Hal ini sesuai dengan yang dicanangkan oleh Presiden RI, Joko Widodo, yakni mendorong ekonomi kreatif menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia,” kata Yuwono.

Sambungnya, pada tahap ini, kolaborasi sangat dibutuhkan oleh semua pihak.

Biasanya, masyarakat mengenalnya dengan istilah ABCG, yang merupakan kolaborasi antara Academician (universitas), Business (pihak swasta), Community (komunitas/masyarakat) dan Government (pemerintah).

Halaman
123
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved