Berita Banyuwangi

Gandrung Sewu Banyuwangi Jadi Produksi Pengetahuan Budaya

Festival Gandrung Sewu yang rutin digelar tiap tahun di Banyuwangi telah menjadi ikon.

Gandrung Sewu Banyuwangi Jadi Produksi Pengetahuan Budaya
haorrahman
Salah satu penampilan dalam festival gandrung sewu 

TRIBUN-BALI.COM, BANYUWANGI - Festival Gandrung Sewu yang rutin digelar tiap tahun di Banyuwangi telah menjadi ikon.

Ribuan penari yang beraksi di tepi Pantai Marina Boom berlatar Selat Bali selalu mengundang minat ribuan wisatawan tiap tahunnya.

Selain menjadi atraksi wisata yang memukau, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, Festival Gandrung Sewu juga mampu memproduksi pengetahuan budaya khususnya bagi generasi muda.

”Idealnya, sebuah festival bukan semata-mata memproduksi produk seni-budaya, tapi juga harus mampu memproduksi pengetahuan budaya. Inilah yang kami ikhtiarkan di Banyuwangi. Jadi festival bukan hanya atraksi wisata, tapi juga bagian integral dari upaya pemajuan kebudayaan,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Jumat (11/10/2019).

Toko Roti Vanesa di Denpasar Terbakar, Kerugian Mencapai Rp 25 Juta

Anak Saya Disiksa, Ibu Korban Minta Polisi Buktikan Jika Anaknya Tak Dianiaya Aparat

Terkait Festival Gandrung Sewu, sambung Anas, dari aspek pariwisata telah terbukti terus meningkat kualitasnya sehingga ditetapkan sebagai 10 Best Calendar of Event pariwisata Indonesia.

Pada saat bersamaan, Festival Gandrung Sewu memproduksi pengetahuan budaya melalui serangkaian workshop, latihan, diskusi tema, hingga seleksi penari-penari baru yang melibatkan ribuan anak muda Banyuwangi.

”Tahun ini, misalnya, dari 1.300 seniman muda yang terlibat di Festival Gandrung Sewu, 60 persen di antaranya adalah penari baru. Artinya ada proses regenerasi. Selama proses persiapan, mereka ikut workshop, latihan, diskusi-diskusi, nah dari sanalah pengetahuan budaya diproduksi dan didistribusikan untuk anak-anak muda dengan melibatkan seniman, budayawan, komunitas sanggar seni, hingga guru-guru,” ujarnya.

Selain kepada anak-anak muda pelaku seni, produksi pengetahuan budaya juga menyasar khalayak umum lewat berbagai saluran.

Lolos Babak Blind Audition The Voice Indonesia, Gus Agung Kepikiran Rilis Single dan Bikin Band

Fenomena Kata Ambyar Hingga Jadi Trending Topic, Ini Arti Yang Sebenarnya

”Termasuk nanti pas pelaksanaan, ada pengetahuan yang bisa disimak melalui sendratari dan beragam materi promosi. Jadi kita harapkan, festival bukan hanya berdampak pada ekonomi, tapi juga peningkatan pengetahuan budaya warga,” jelas Anas.

Anas menambahkan, sesuai Undang-Undang Nomor 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, objek pemajuan kebudayaan harus dilakukan inventarisasi, pengamanan, pemeliharaan, dan penyelamatan.

Objek pemajuan kebudayaan sendiri terdiri atas sepuluh hal, mulai tradisi lisan, adat istiadat, manuskrip, permainan rakyat, olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, hingga ritus

”Di Banyuwangi, berbagai obyek pemajuan kebudayaan itu dirayakan dalam berbagai festival sepanjang tahun, salah satunya Festival Gandrung Sewu. Jadi festival bukan semata-mata peristiwa pariwisata, tapi juga bagian dari formula baru kerja kebudayaan untuk mendorong pemajuan kebudayaan,” jelasnya.

Jangan Pernah Pencet Jerawat, Lakukan Cara Ini untuk Mengatasinya

Ucapan Koster Soal Teluk Benoa Tak Bisa Direklamasi Dibantah Akademisi UGM, Ini Yang Harus Dipahami

Ketua Panitia Festival Gandrung Sewu Budianto menambahkan, aksi kolosal ribuan penari Gandrung tahun ini bertema ”Panji-Panji Sunangkoro” yang dibalut dalam sendratari berkisah perjuangan heroik rakyat Blambangan melawan kolonialisme Belanda.

”Digelar rutin sejak delapan tahun terakhir, Festival Gandrung Sewu tiap tahunnya mengangkat tema berbeda. Regenerasi pelaku seni hingga produksi pengetahuan budaya berlangsung dalam proses itu,” ujarnya. (*)

Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved