Tari Kecak, Ekonomi Kreatif Budaya yang Dimonetisasi untuk Kesejahteraan Masyarakat

Tari kecak menjadi salah satu bentuk ekonomi kreatif yang dimonetisasi untuk kesejahteraan masyarakat

Tari Kecak, Ekonomi Kreatif Budaya yang Dimonetisasi untuk Kesejahteraan Masyarakat
Istimewa
Kecak Catur Lila Asrama saat menghibur wisatawan di Stad Sahadewa, Batubulan, Gianyar, Bali. Tari Kecak, Ekonomi Kreatif Budaya yang Dimonetisasi untuk Kesejahteraan Masyarakat 

Tari Kecak, Ekonomi Kreatif Budaya yang Dimonetisasi untuk Kesejahteraan Masyarakat

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia, Triawan Munaf, menyampaikan bahwa kreativitas bisa dimonetisasi, dan itu sudah dimonetisasi sejak tahun 1930an.

Dimulai tahun 1930an, seorang Warga Bali Wayan Limbak bersama seorang pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari kecak.

Kini tari kecak sudah berusia hampir satu abad.

Triawan menyebut tari kecak inilah yang menjadi salah satu bentuk ekonomi kreatif

“Selalu saya gunakan tari kecak sebagai contoh ekonomi kreatif,” ujarnya di Denpasar, Jumat (11/10/2019).

Di tengah tarian tersebut, pasti ada cuplikan atau sepenggal kisah Ramayana.

Kemudian di sekelilingnya bisa ada 200 orang penari yang berprofesi sebagai petani, nelayan, tukang bangunan, yang mana mereka siangnya bekerja tetapi malamnya bisa menari sehingga mendapat tambahan penghasilan. 

Artinya masyarakat di Bali bisa memonetisasi budayanya dengan mempertunjukkan pada turis-turis, dan itu bertahan hingga sekarang.

“Itu adalah ekonomi kreatif, budaya atau warisan yang dimonetisasi untuk kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Halaman
12
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved