LPKA Karangasem Sekolahkan Warga Binaan, Dapat Ijazah Setelah Keluar dari Penjara

Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Karangasem sejak dua bulan yang lalu membentuk program belajar khusus warga binaan.

LPKA Karangasem Sekolahkan Warga Binaan, Dapat Ijazah Setelah Keluar dari Penjara
dok. ist.
Suasana belajar di Lembaga Pembinaan Khusus Anak di Karangasem, Jumat (11/10/2019). Warga binaan tampak mendengarkan pemaparan dari pengajar. 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Karangasem membentuk program belajar khusus warga binaan.

Program ini bekerjasama dengan Satuan Pendidikan Sangar Kegiatan Belajar (SKB) Jasri, serta Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Agama Hindu (STKIP).

Kasi Pembinaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak, Komang Suparta menjelaskan, program ini baru dibentuk sejak dua bulan.

Ini agar hak anak selama di lembaga pembinaan tetap terpenuhi sesuai UU Nomor 12 Tahun 1995 terkait sistem pidana peradilan anak.

"Undang-undang ini mengatur sistem warga binaan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas warga binaan. Pembelajaran yang dilakukan di lembaga pembinaan merupakan bagian dari pemenuhan hak warga binaan, khusus untuk anak-anak," ujar Suparta, Jumat (11/10/2019).

Ia mengatakan, warga binaan yang mengikuti program belajar sebanyak 21 dari 29 orang.

Rinciannya SD 10 orang, SMP 9 orang, dan SMA 2 orang.

Sedangkan sisanya belum bisa ikut kegiatan belajar lantaran terlambat mendaftar dan harus menunggu tahun ajaran baru.

Belajar dilakukan setiap hari kecuali Minggu. Waktu dimulai pukul 08.00 sampai 11.00 Wita dengan dua maata pelajaran.

Setelah belajar warga binaan diberikan pembinaan lain. Di antaranya keagamaan, keterampilan, perikanan, serta  penyuluhaan dari yayasan.

"Warga binaan sangat bersyukur dengan adanya belajar formal ijazah yang dikeluarkan bisa diakui. Makanya warga binaan bisa lanjutkan ke sekolah manapun setelah keluar dari lembaga pembinaan. Pihak yang mengeluarkan ijazahnya dari SKB," jelas Suparta.

Lembaga pembinaan hanya menyediakan alat tulis, buku tulis, serta tiga unit ruang belajar untuk SD, SMP, dan SMA.

Sedangkan untuk buku  bacaan dan LKS disediakaan pihak SKB Jasri. Tenaga pengajarnya dari STKIP Hindu Amlapura.

"Pendidikan ini adalah hak warga binaan selama di lembaga pembinaan. Harapannya setelah keluar dari sini, mereka berubah dan bisa memberi manfaat ke masyarakat. Bisa menyalurkan keterampilannya ditempat tinggalnya," kata Suparta. (*)

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved