Indonesia di Era Post Truth, Dimana Masyarakat Kini Lebih Bereaksi Emosional Tentang Isu di Medsos

Fakta-fakta kemudian bersaing dengan hoaks dan kebohongan untuk dipercaya oleh publik.

Indonesia di Era Post Truth, Dimana Masyarakat Kini Lebih Bereaksi Emosional Tentang Isu di Medsos
Tribun Bali/Net
Ilustrasi Internet 

TRIBUN-BALI.COM - Setelah terjadinya kasus penusukan oleh terduga teroris yang dialami oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto, banyak teori yang berkembang di media sosial bahwa peristiwa tersebut hanyalah rekayasa belaka.

Menanggapi isu tersebut,  Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika  angkat suara untuk meluruskannya ke publik, Dirjen IKP Widodo Muktiyo meminta masyarakat untuk berfikir logis dan tidak terpancing isu-isu negatif yang berkembang serta tidak ikut memanaskan situasi di media sosial.

“Pada saat inilah nalar kita dituntut untuk kritis. (Beredar informasi) penusukan Pak Wiranto dianggap skenario, action  saja. Bagaimana mungkin ditusuk dengan pisau dianggap hanya action. Jangan sampai kita ditumpulkan oleh informasi sesat di media sosial,” tegas Widodo, kemarin.

Menurut Widodo pada acara yang digelar Kominfo bekerjasama dengan Suara Muhammadiyah ini, informasi-informasi yang beredar terkait peristiwa tersebut sengaja dikembangkan oleh pihak-pihak tertentu untuk membuat heboh masyarakat Indonesia.

Ia meminta masyarakat untuk mempercayai informasi atau rilis resmi yang dikeluarkan pemerintah terkait perkembangan kasus penusukan Menkopolhukam.

Lebih lanjut, Widodo menjelaskan perkembangan media di era post truth, fakta obyektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik karena lebih kuat emosi dan keyakinan pribadi.

Fakta-fakta kemudian bersaing dengan hoaks dan kebohongan untuk dipercaya oleh publik.

Sebagai salah satu negara dengan pengguna internet terbesar di dunia, Indonesia potensial menjadi target fenomena Post-Truth  baik untuk tujuan ekonomi maupun kepentingan politik.

Fenomena inilah menurutnya yang sedang dialami oleh masyarakat Indonesia terutama arus media sosial yang paling mempengaruhi kadar obyektifitas publik.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Era Post Truth, Masyarakat Dinilai Lebih Emosional Tanggapi Isu di Medsos

Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved