Liputan Khusus

Motor Listrik Berebut Pasar Bali, Potensi Marketnya Dianggap Terbesar di Indonesia

Dalam dua tahun terakhir, satu persatu perusahaan sepeda dan motor listrik membuka cabang atau outlet di Bali

Motor Listrik Berebut Pasar Bali, Potensi Marketnya Dianggap Terbesar di Indonesia
Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
PASAR POTENSIAL - Sebagai tujuan utama wisatawan asing di Indonesia, pasar Bali dianggap lebih matang untuk bisa menerima kehadiran motor listrik, yang dinilai lebih ramah lingkungan. Di Bali kini ada tiga pemain di pasar sepeda dan motor listrik, yaitu PT Sepeda Listrik, Volta Oto dan Wima. Motor Listrik Berebut Pasar Bali, Potensi Marketnya Dianggap Terbesar di Indonesia 

Motor listrik yang diproduksi PT Sepeda Listrik selama ini cuma mampu melaju 40-50 km dengan kapasitas baterai terpasang yang dimilikinya.

Setelah habis baterai, maka pengguna harus mengisi daya baterai 6-8 jam.

Sedangkan kecepatan maksimal motor listrik Volta Oto hingga 55 km/jam saat ini.

“Jadi untuk sementara kendaraan listrik kami masih untuk jarak tempuh dekat saja. Ke depan tentu kami memikirkan produk yang bisa menjangkau jarak jauh,” kata Robert.

Pemerintah provinsi Bali dan PLN Bali sudah berkomitmen untuk mendukung program kendaraan listrik, karena hal itu sesuai dengan program lingkungan bersih (clean) dan hijau (green).

Itulah sebabnya di sejumlah titik di Pulau Bali nanti bakal dipasang charger station atau stasiun pengisian (charge) baterai kendaraan listrik.

Di Volta Oto, kata Imas, beberapa produk sepeda listrik yang dijualnya sudah dilengkapi dengan pedal.

Dengan demikian, dalam keadaan emergency (darurat) ketika baterai habis, dan kebetulan tidak bisa dilakukan charge seketika, sepeda listrik itu bisa dikayuh.

“Nge-charge baterai antara 6-8 jam. Harga baterai di kisaran Rp 2-3 juta. Kalau perawatan baterai bagus, dia akan tahan 3 hingga 5 tahun,” ucap Imas.

Robert mengatakan, banyak pihak memprediksi bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) bakal semakin mahal.

Karena berbasis fosil, cadangan BBM diramalkan akan makin menipis dan bahkan habis di masa depan.

Sedangkan, tenaga listrik bisa diperbarui dan lebih ramah lingkungan.

“Maka dari itu, saya yakin ke depan kendaraan listrik pasti akan banyak peminatnya, karena nanti akan ada masa saat harga BBM sangat mahal karena kelangkaannya. Saat itu orang-orang mulai sadar dan akan beralih ke kendaraan listrik,” ungkapnya.

Selis membuka cabang di Bali, lantaran Bali dinilai sebagai salah satu daerah yang memiliki komitmen kuat terhadap lingkungan yang hijau dan bersih.

Alasan yang sama juga mendorong Volta Oto membuka outlet-nya di Bali.

“Tentu, kami melihat potensi pasar di Bali. Bali sudah sangat berkembang dalam pariwisata. Selain itu, Bali ke depan seperti yang dibilang Bapak Gubernur Wayan Koster sudah membuat perda tentang bagaimana go green, juga aturan tentang pengurangan sampah plastik. Kami melihat itu sangat baik bagi kehadiran kendaraan listrik. Semoga sepeda dan motor listrik ini bisa membuat Bali semakin hijau dan bersih,” jelas Imas.

Menurut Robert, dari waktu ke waktu, permintaan atas produk Selis meningkat, yang menunjukkan tingginya minat masyarakat Bali dalam menggunakan kendaraan listrik.

Pihak Selis juga menyediakan layanan home service bagi pengguna produk Selis.

Target Jual 120 Ribu Unit di Bali

Selain PT Sepeda Listrik dan Volta Oto, ada satu lagi pemain di pasar sepeda dan motor listrik di Bali, yaitu PT Wika Industri Manufaktur (Wima).

Rencana anak usaha BUMN konstruksi PT Wijaya Karya (persero) ini bahkan lebih ambisius di Bali.

Dalam kesempatan sowan ke Gubernur Bali I Wayan Koster pada tahun 2018 lalu, pihak Wima mengatakan bakal membuka pabrik motor listrik di Jembrana mulai 2020 mendatang. Rencana itu kini kian matang.

Wima yang dikenal dengan produknya yang bernama Gesit ini menargetkan 120 ribu unit motor listrik terjual di Bali dalam lima tahun ke depan.

Direktur Keuangan PT Wima, Tri Hari Agus Rianto menjelaskan, Wima serius untuk membuka pabrik motor listrik di Bali.

Saat ini tinggal tandatangan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Pemerintahh Provinsi Bali. Pemprov Bali, menurut Tri Hari, bahkan sudah merancang peraturan gubernur (pergub) terkait kendaraan listrik di Bali.

“Sepertinya soal kendaraan listrik itu juga sedang disiapkan pergub-nya di Bali. Tentu ini sejalan dengan rencana bisnis kami di Bali. Mudah-mudahan ketika nanti pergub terwujud, kami bisa melakukan pembukaan plant (pabrik) di sana (Jembrana) dan direncanakan akan berproduksi tahun 2020,” kata Tri Hari saat dihubungi Tribun Bali pekan lalu.

PT Wima bakal membuka pabrik motor listrik di Jembrana dan Pemprov Bali dikabarkan bakal menyiapkan lahan untuk mereka.

PT Wima dan Pemprov Bali menjalin kesepakatan bahwa jika PT Wima akan berinvestasi dan membuat berbagai rencana bisnis terkait motot listrik di Bali, maka Pemprov Bali akan ikut memasarkan produk keluaran Gesit baik dengan cara memberi kemudahan dalam urusan perpajakan, memberikan subsidi bagi PNS di Pemprov Bali untuk pembeliannya maupun dengan cara-cara lain.

Karena itu, Wima berani menargetkan penjualan hingga 120 ribu unit motor listrik di Bali sampai 2025.

“Jadi mungkin dari instansi-instansi, dan kemudian mengajak masyarakat berubah, dari menggunakan kendaraan BBM ke listrik. Bisa juga mempermudah masyarakat untuk bisa membeli atau menukarkan kendaraannya (yang pakai BBM) dengan motor listrik. Begitu,” ungkap Tri Hari.

Harapan dari Wima adalah adanya charging station atau stasiun untuk nge-charge baterai di lokasi-lokasi tertentu di Bali.

Ini untuk menunjang kebutuhan pengguna motor listrik yang bepergian jauh.

Namun jika motor listrik digunakan di wilayah perkotaan saja, menurut Tri Hari, daya tahan baterai motor Gesit masih cukup dengan kemampuan jarak tempuhnya yang bisa mencapai 50 km.

Untuk saat ini, harga pasar motor listrik Gesit dari PT Wima senilai Rp 25 juta per unit.

Nanti, jika kesepakatan antara Pemprov Bali dan PT Wima telah ditandatangani, kemungkinan Pemprov Bali bakal memberikan subsidi bagi ASN (Aparatur Sipil Negara) Pemprov Bali yang mau membeli motor listrik atau menukarkan kendaraan konvensionalnya dengan motor listrik.

Saat ini, menurut Tri Hari, pemerintah pusat sedang merancang Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Berupa Bunga Obligasi.

Itu sebabnya, untuk sementara pengguna motor listrik di Indonesia belum diwajibkan untuk menggunakan pelat nomor kendaraan sebagaimana kendaraan konvensional.

“Dengan peraturan pemerintah nomor 55 ini, seluruh departemen dan instansi pemerintah harus mendetailkan aturan-aturan yang tertuang di dalamnya. Ini sedang dibahas dalam sebulan ini oleh masing-masing departemen,” jelas Tri Hari.

Menurut Tri Hari, kendala untuk menjual motor listrik saat ini adalah masalah edukasi semata.

Masyarakat perlu diedukasi tentang keuntungan motor listrik dibandingkan dengan motor konvensional yang menggunakan BBM.

Namun, ia optimistis, seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Bali, bakal menyadari bagaimana keunggulan motor listrik dari sisi efisiensi dibandingkan dengan motor konvensional berbasis BBM.

“Bayangkan, untuk biaya listrik dengan jarak tempuh 50 kilometer, itu hanya keluar biaya Rp 3 ribu. Sementara kalau beli bensin untuk menempuh jarak 50 km bisa sebesar Rp 12 ribu. Daya tampung kendaraan sama dengan motor biasa, karena sudah ada standarnya. Suku cadang motor listrik juga cukup banyak yang sama dengan motor konvensional, sehingga banyak dijual di mana-mana. Jadi, untuk pembelian suku cadang bisa dilayani bengkel biasa. Kecuali kalau suku cadang dan servis yang terkait elektrikalnya, baru di bengkel khusus,” jelas Tri Hari.

Sampai saat ini, Tri Hari mengklaim sudah banyak yang memesan produk Gesit dari PT Wima.

Pemesanan dari Nusa Tenggara Timur (NTT), misalnya, sudah masuk sebanyak 10 ribu unit, dan 1.500 pemesan sudah memberikan tanda jadi.

PT Wima juga sudah banyak menerima pesanan dari calon konsumen di Bali, sehingga Tri Hari optimistis dengan rencana bisnis Wima di Bali.

“Yang pesan banyak. Kenapa saya pilih Bali, karena fans kami banyak dan pengiriman ke daerah timur juga lebih mudah dilayani dari Bali. Mudah-mudahan basisnya nanti di Bali. Pasar Kalimantan, NTT, dan NTB, nanti disuplai dari Bali supaya lebih mudah,” ujar Tri Hari.

Ke depan, PT Wima juga berencana memperbarui desain kendaraan listriknya agar lebih stylish, dan menyesuaikan dengan kebutuhan zaman.

(*)

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved