Pohon Cemcem di Penglipuran Mengering, Meme Nyampuh Kurangi Produksi Loloh

Musim kemarau berdampak pada produksi loloh cemcem di Desa Penglipuran Bangli

Pohon Cemcem di Penglipuran Mengering, Meme Nyampuh Kurangi Produksi Loloh
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
LOLOH - Meme nyampuh saat ditemui di rumahnyal, Rabu (9/10/2019). Pohon Cemcem di Penglipuran Mengering, Meme Nyampuh Kurangi Produksi Loloh 

Pohon Cemcem di Penglipuran Mengering, Meme Nyampuh Kurangi Produksi Loloh

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - 

Musim kemarau yang terjadi sejak bulan Agustus berdampak pada produksi loloh cemcem di Desa Penglipuran, Bangli, Bali.

Tak jarang produsen minuman khas ini harus mencari bahan baku utama hingga luar kabupaten.

Pembuat loloh cemcem asal Desa Penglipuran, Ni Nengah Nyampuh mengungkapkan, sudah sejak bulan September, ia kesulitan mendapatkan daun cemcem (kloncing).

Agar produksi loloh tetap berjalan, mau tidak mau harus membeli bahan baku utama itu keluar Desa Penglipuran hingga luar kabupaten.

“Di sini (Penglipuran) memang banyak pohonnya. Namun karena memasuki musim kemarau, beberapa pohon juga sulit tumbuh daun. Saya harus membeli hingga luar Bangli. Terkadang saya beli ke Badung, hingga wilayah Sangeh,” ujar perempuan yang dikenal dengan nama Meme Nyampuh ini.

Harga untuk membeli daun cemcem ditentukan dari besar kecilnya pohon jenis kedondong hutan itu.

Apabila ukuran pohon kecil, maka ia mengeluarkan uang sebesar Rp 100 ribu.

Sedangkan untuk pohon berukuran besar, nenek lima cucu itu harus mengeluarkan uang sebesar Rp 200 ribu.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved