Bukti Sel-sel JAD Ada di Bali, Kepolisian Perketat Keamanan di Pulau Dewata

- Sementara itu, pasca ditangkapnya dua anggota jaringan JAD Bali, pihak kepolosian lebih memperketat dan meningkatkan kemananan di Pulau Dewata

Bukti Sel-sel JAD Ada di Bali, Kepolisian Perketat Keamanan di Pulau Dewata
Tribun Bali/Saiful Rohim
PERIKSA KENDARAAN - Polisi dibantu anjing pelacak memeriksa kendaraan yang masuk ke Bali lewat Pelabuhan Padang Bai, Karangasem, Bali, Minggu (13/10/2019).  

"Penangkapan terduga terorisme 10-14 Oktober 2019 ada 22 tersangka. Densus masih berada di lapangan," ujar Dedi.

Dedi mengungkapkan saat ini Tim Densus 88 gencar melakukan upaya mitigasi guna mencegah kelompok terorisme melakukan aksi amaliahnya.

Setelah penyerangan terhadap Wiranto, Tim Densus menangkap tiga terduga teroris di wilayah Banten.

Mereka berinisial SA alias Abu Rara dan istrinya berinisial FA.

Abu Rara pelaku penusukan terhadap Wiranto, sedang FA menusuk Kapolsek Menes.

Tim Densus 88 kemudian menangkap seorang perempuan, RA. Dedi tidak merinci waktu dan lokasi penangkapan RA. Hanya dia diduga turut terlibat rencana teror penusukan Abu Rara terhadap Wiranto.

Pada hari yang sama, dilakukan penangkapan terduga teroris dengan inisial WBN alias Budi di Bandung.  

Keesokan harinya, Tim Densus 88 bergerak ke wilayah Bali, Sulawesi Utara, Jambi, dan Cengkareng. Di Bali, tim Densus 88 menangkap AT dan anaknya ZAI.

Sementara di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, ditangkap terduga teroris dengan inisial S alias Jack Sparrow. Dedi menuturkan S menjadi bagian dari Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

"Rencana untuk melakukan jihad di Papua. Yang bersangkutan [S] memiliki kemampuan untuk merakit dan membuat bom," tambah Dedi.

Di Jambi pada Jumat (11/10), Tim Densus 88 menangkap R alias Putra alias Pedagang Berdebu. Dedi berujar kelompok R tidak memiliki struktur yang baik di lapangan. Namun, di media sosial mereka bergerak sistematis.

"Dia tidak harus secara langsung atau fisik, tapi intensitas kontak di media sosial itu sistematis dan terstruktur. Apa pun yang ingin mereka lakukan, mereka menyampaikan di media sosialnya. Baik menggunakan telegram maupun yang lain," ucapnya.

Di hari yang sama dilakukan penangkapan terhadap TH di Cengkareng.

Tim Densus 88 mengamankan handphone, buku tabungan, pisau lipat, dua bendera ISIS, serta buku dan kertas catatan tentang organisasi ISIS.

Berikutnya pada Minggu (13/10), Tim Densus 88 menangkap dua terduga teroris di Cirebon (YF dan BA); NAS dan APS alias Arif Hidayat di Lampung; A di Poso; RF di Indramayu.

Pada Senin (14/10), Tim Densus 88 menangkap tiga terduga teroris di Bandung dengan inisial N, JJ, dan AAS serta empat terduga teroris di Lampung dengan inisial PH, Y alias Yudistira, MRM alias Rifki, dan UD.

Dedi menjelaskan terduga teroris yang ditangkap di wilayah Lampung merencanakan aksi amaliah untuk menyerang kantor kepolisian di Lampung. "Sasaran utama dia adalah kepolisian," ungkap Dedi.

Dedi menambahkan kelompok-kelompok teroris itu memiliki ciri khas berbaiat ke ISIS dan memiliki tujuan hidup melakukan aksi teror. Dalam merencanakan serangan, mereka bergerak sendiri-sendiri.

"Setelah menyampaikan idenya hendak melakukan amaliyah, dia independen dan mereka bergerak untuk amaliyah sesuai kemampuan masing-masing," terang Dedi.

"Kalau dia bisa membom, dia akan bom bunuh diri. Kalau dia mampunya amaliyah pakai senjata tajam, ya pakai senjata tajam saja," sambung Dedi. (*) 

Penulis: Rino Gale
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved