Terkuak, Terduga Teroris Bali AT Ternyata Koordinator Serangan & Aktif Beri Tutor Pembuatan Bom
Terduga teroris yang ditangkap di Bali, AT (45), punya peran krusial dalam kelompok Abu Rara.
TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Terduga teroris yang ditangkap di Bali, AT (45), punya peran krusial dalam kelompok Abu Rara.
AT berperan sebagai koordinator penyerangan. Dan ia diduga sudah menyusun serangan dan rencana teror di Bali.
Hal itu diungkapkan Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo saat menggelar jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin (14/10).
Terkait penangkapan terduga teroris pasca kasus penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10).
“AT memiliki peran sebagai koordinator untuk melakukan penyerangan. Dia ini kelompok Abu Rara. Ada dalam satu kontak (Telegram) menyusun serangan atau amaliyah dan rencana teror di Bali,” kata Dedi Prasetyo.
Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap AT di wilayah Kabupaten Jembrana, Jumat (11/10) pukul 02.35 Wita.
Tim Densus 88 juga mengamankan anak AT, ZAI, yang juga diduga sebagai pelaku terorisme.
ZAI yang baru berusia 14 tahun. diketahui merupakan anggota Jamaah Ansharu Daulah (JAD) Bali. Dia direkrut ayahnya, AT, untuk masuk JAD yang berbait ke ISIS.
“AT aktif berikan tutor pembuatan bom dengan judul produk Indo yang di-share di kelompok mereka. AT juga mengajak putranya ZA untuk amaliyah,” terang Dedi.
Densus 88 mengamankan sejumlah barang bukti saat menangkap AT dan ZAI.
“Ada barang bukti busur dan anak panah, serta peralatan bom seperti mur dan baut. Komponen itu sudah dikuasai pelaku dan siap digunakan,” katanya.
Bukan sekali ini saja anak dilibatkan oleh terduga teroris.
Dalam peristiwa pengeboman di Mapolrestabes Surabaya dan Gereja di Surabaya pada Mei 2018, anak-anak juga dilibatkan orangtua dalam aksi bom maut.
Dengan usianya yang baru 14 tahun atau masih di bawah umur, dalam penanganannya ZAI akan mendapat perlakuan khusus dari kepolisian.
8 Provinsi
Sejak peristiwa penusukan terhadap Wiranto di Alun-alun Menes, Pandeglang, Tim Densus 88 telah menangkap 22 orang terduga teroris di delapan provinsi, yaitu Banten, Jawa Barat (Jabar), Bali, Jambi, Jakarta, Sulawesi Tengah (Sulteng), Sulawesi Utara (Sulut), dan Lampung.
Penangkapan dilakukan mulai 10-14 Oktober 2019.
"Penangkapan terduga terorisme 10-14 Oktober 2019 ada 22 tersangka. Densus masih berada di lapangan," ujar Dedi.
Dedi mengungkapkan saat ini Tim Densus 88 gencar melakukan upaya mitigasi guna mencegah kelompok terorisme melakukan aksi amaliahnya.
Setelah penyerangan terhadap Wiranto, Tim Densus menangkap tiga terduga teroris di wilayah Banten.
Mereka berinisial SA alias Abu Rara dan istrinya berinisial FA.
Abu Rara pelaku penusukan terhadap Wiranto, sedang FA menusuk Kapolsek Menes.
Tim Densus 88 kemudian menangkap seorang perempuan, RA. Dedi tidak merinci waktu dan lokasi penangkapan RA. Hanya dia diduga turut terlibat rencana teror penusukan Abu Rara terhadap Wiranto.
Pada hari yang sama, dilakukan penangkapan terduga teroris dengan inisial WBN alias Budi di Bandung.
Keesokan harinya, Tim Densus 88 bergerak ke wilayah Bali, Sulawesi Utara, Jambi, dan Cengkareng. Di Bali, tim Densus 88 menangkap AT dan anaknya ZAI.
Sementara di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, ditangkap terduga teroris dengan inisial S alias Jack Sparrow. Dedi menuturkan S menjadi bagian dari Mujahidin Indonesia Timur (MIT).
"Rencana untuk melakukan jihad di Papua. Yang bersangkutan [S] memiliki kemampuan untuk merakit dan membuat bom," tambah Dedi.
Di Jambi pada Jumat (11/10), Tim Densus 88 menangkap R alias Putra alias Pedagang Berdebu. Dedi berujar kelompok R tidak memiliki struktur yang baik di lapangan. Namun, di media sosial mereka bergerak sistematis.
"Dia tidak harus secara langsung atau fisik, tapi intensitas kontak di media sosial itu sistematis dan terstruktur. Apa pun yang ingin mereka lakukan, mereka menyampaikan di media sosialnya. Baik menggunakan telegram maupun yang lain," ucapnya.
Di hari yang sama dilakukan penangkapan terhadap TH di Cengkareng.
Tim Densus 88 mengamankan handphone, buku tabungan, pisau lipat, dua bendera ISIS, serta buku dan kertas catatan tentang organisasi ISIS.
Berikutnya pada Minggu (13/10), Tim Densus 88 menangkap dua terduga teroris di Cirebon (YF dan BA); NAS dan APS alias Arif Hidayat di Lampung; A di Poso; RF di Indramayu.
Pada Senin (14/10), Tim Densus 88 menangkap tiga terduga teroris di Bandung dengan inisial N, JJ, dan AAS serta empat terduga teroris di Lampung dengan inisial PH, Y alias Yudistira, MRM alias Rifki, dan UD.
Dedi menjelaskan terduga teroris yang ditangkap di wilayah Lampung merencanakan aksi amaliah untuk menyerang kantor kepolisian di Lampung. "Sasaran utama dia adalah kepolisian," ungkap Dedi.
Dedi menambahkan kelompok-kelompok teroris itu memiliki ciri khas berbaiat ke ISIS dan memiliki tujuan hidup melakukan aksi teror. Dalam merencanakan serangan, mereka bergerak sendiri-sendiri.
"Setelah menyampaikan idenya hendak melakukan amaliyah, dia independen dan mereka bergerak untuk amaliyah sesuai kemampuan masing-masing," terang Dedi.
"Kalau dia bisa membom, dia akan bom bunuh diri. Kalau dia mampunya amaliyah pakai senjata tajam, ya pakai senjata tajam saja," sambung Dedi.
Sementara itu, pasca ditangkapnya dua anggota jaringan JAD Bali, pihak kepolosian lebih memperketat dan meningkatkan kemananan di Pulau Dewata, khususnya di pusat-pusat pariwisata.
Terlebih diketahui, AT dan ZAI sudah lama tinggal di Bali tepatnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar Timur. ZAI bahkan lahir dan besar di Bali.
Kabag Ops Polresta Denpasar, Kompol Nyoman Gatra, mengatakan, penangkapan terhadap AT dan ZAI menandakan sel-sel dari kelompok JAD itu ada di Bali.
Karenanya semua elemen masyarakat harus waspada.
"Ya semua elemen masyarakat harus terlibat untuk pengamanan wilayah Bali dan bukan hanya polisi dan TNI saja," ujarnya, Senin (14/10).
Untuk daerah yang disisir untuk pengamanan di wilayah hukum Denpasar adalah lokasi-lokasi indekos. Kapolresta Denpasar sudah menginstruksikan timnya untuk meningkatkan pengamanan.
“Unit-unit intelijen dan pengembang dan pembinaan serta penyuluhan wajib masuk ke komunitas-komunitas seperti kelompok pemilik rumah kos.
Kemudian lokasi yang digunakan tempat tinggal pendatang. Jadi berdasarkan kejadian yang terjadi di luar wilayah Bali itu menjadikan rekomendasi bahwa kita tidak boleh menganggap Bali ini selalu aman," jelasnya.
Adapun tempat-tempat yang jadi atensi petugas adalah pusat pariwisata untuk menjaga keamanan para wisatawan serta objek-objek vital seperti pelabuhan dan bandara.
“Termasuk mall-mall karena kita tidak tau dimana itu bisa terjadi. Makanya mari kita sepakati, bahwa kejahatan akan terjadi karena ada peluang sehingga niat akan muncul," kata Gatra. (tribun network/kps/ter/rin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/rumah-kos-terduga-teroris-di-bali.jpg)