Bea Cukai Atambua Amankan 5 Ton Sampah Plastik dari KLM Berkat Utama

Bea Cukai Atambua berhasil melakukan penindakan penegahan upaya penyelundupan sekira 5 ton sampah plastik berupa scrap galon air minum

Bea Cukai Atambua Amankan 5 Ton Sampah Plastik dari KLM Berkat Utama
Humas Kanwil Bea Cukai Bali NTB dan NTT
Kapal Berkat Utama yang menyelundupkan sampah plastik 5 ton. Bea Cukai Atambua Amankan 5 Ton Sampah Plastik dari KLM Berkat Utama 

Bea Cukai Atambua Amankan 5 Ton Sampah Plastik dari KLM Berkat Utama

Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Kantor Wilayah DJBC Bali, NTB dan NTT khususnya Bea Cukai Atambua berhasil melakukan penindakan penegahan upaya penyelundupan sekira 5 ton sampah plastik berupa scrap galon air minum.

Selasa (8/10/2019) lalu, Kapal Patroli Bea Cukai Atambua Operasi Jaring Wallacea dengan menggunakan Kapal Patroli 30003.

“Saat melintas di perairan Selat Ombai, Nusa Tenggara Timur mencurigai ada kapal diduga bawa muatan barang ilegal,” ungkap Kepala Seksi Humas Kanwil Bea Cukai Bali, NTB dan NTT, Wachid Kurniawan, Rabu (16/10/2019).

Di mana kapal KLM Berkat Utama GT 157 dinakhodai WNI berinisial AS dan 6 ABK, Selasa (8/10/2019) dini hari kemarin, tidak membawa dokumen resmi muatan yang dibawanya.

“Dari pengakuan nakhoda kapal, mereka berangkat dari Timor Leste ke Kalabahi, Alor, NTT. Untuk lebih jelasnya nanti kami sampaikan karena masih proses penyelidikan,” jelas Wachid.

Hingga saat ini nakhoda serta 6 ABK masih diperiksa untuk pengembangan, dan proses penyidikan akan dibantu tim P2 Kanwil Bea Cukai Bali, NTB, dan NTT.

Sementara barang bukti kapal dan muatan sekira 5 ton potongan sampah plastik scrap galon air minum berada di Pelabuhan Atapupu NTT.

Menurutnya, perairan Selat Ombai merupakan daerah rawan tindakan penyelundupan melalui jalur laut, baik dari Indonesia maupun ke luar negeri.

Sehingga pihaknya mengintensifkan patroli laut di wilayah perbatasan tersebut, baik patroli rutin maupun patroli operasi lainnya.

Kapal KLM Berkat Utama GT 157 melanggar dua peraturan pemerintah, yakni mengenai Impor Limbah dan Pasal 102 UU 17 Tahun 2006 mengenai Kepabeanan dengan ancaman minimal 1 tahun dan maksimal 10 tahun atau denda minimal Rp 50 juta dan maksimal Rp 5 miliar.

(*)

Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved