RSUP Sanglah Gelar Upacara Caru Panca Rupa Menawa Gempang Untuk Kali Pertama

RSUP Sanglah Gelar Upacara Caru Panca Rupa Menawa Gempang Untuk Kali Pertama

RSUP Sanglah Gelar Upacara Caru Panca Rupa Menawa Gempang Untuk Kali Pertama
TRIBUN BALI/M.FIRDIAN SANI
Direktur Utama RSUP Sanglah dr. I Wayan Sudana, dan Gubernur Bali Wayan Koster tampak sedang melakukan upacara ritual Caru Panca Rupa Menawa Gempang yang diadakan RSUP Sanglah, Kamis (17/10/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Untuk kali pertama, Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah menggelar upacara Caru Panca Rupa Menawa Gempang, di Lapangan parkir bundar RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Kamis (17/10/2019).

Direktur Utama RSUP Sanglah dr. I Wayan Sudana, M.Kes mengatakan upacara ini diadakan dalam rangka menyucikan area rumah sakit yang dalam hal ini selaras dengan visi pemerintah Provinsi Bali "Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

"Jadi seperti kita ketahui bersama, rumah sakit ini merupakan tempat berinteraksi orang, dari mulai lahiran, kemudian dia sakit ada di sini, ada juga yang keguguran, dan ada yang meninggal di sini. Kalau di Bali itu biasa dikatakan memberi nuansa neteh atau kotor secara niskala.

Masyarakat Hindu di Bali sangat percaya jika dalam keadaan kotor atau neteh ini dapat mengganggu, baik dari kinerja maupun interaksi dengan lingkungan, oleh karenanya upacara ini dilaksanakan untuk menyucikan lingkungan rumah sakit.

"Keadaan neteh itu akan mempengaruhi kinerja kita, interaksi kita dengan lingkungan yang berakibat tidak lancar karena suasana yang kotor. Nah dengan demikian kami orang Bali, hukum adat tetap kami laksanakan, kita adakan penyelarasan keharmonisan lingkungan rumah sakit yaitu dengan
upacara mecaru panca rupa menawa gempang ini," jelasnya.

Upacara keagamaan ini dihadiri langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta, dan Walikota Denpasar Rai Dharma Wijaya Mantra.

Rangkaian acara sudah dimulai sejak tanggal 1 Oktober sampai dengan 26 Oktober 2019.

"Rangkaian acaranya mulai "mematuk" dari tanggal 1 Oktober 2019 ke pantai matahari terbit. Kemudia nanti berlanjut ke upacara-upacara, kemudian nanti akan ada upacara puncak piodalan tanggal 22 Oktober, kemudian tanggal 25 itu nyineb untuk menutup semua rangkaian acara sedari awal, kemudian tanggal 26 ada acara nyegare gunung," kata Wayan Sudana.

Ia berharap acara berikutnya berjalan dengan lancar dan dapat membangun hubungan yang baik antara tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.

"Tentunya ada keserasian kita ke atas dengan maha pencipta, hubungan harmonis dengan sesama manusia, kemudian hubungan yang selaras dengan alam lingkungan," ungkapnya.

Ia mengatakan upacara sebesar ini normalnya diadakan dalam kurun waktu 30 tahun.

"Mungkin kalau memang diperlukan mungkin lagi 30 tahun diadakannya, tapi di kalau Bali itu tiap setahun ada kalau misalnya nyepi itu kan ada pecaruan, kemudian tiap enam bulan juga ada piodalan tapi tidak sebesar acara sekarang," ucap dia. (*)

Penulis: M. Firdian Sani
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved