Sponsored Content

PHDI Klungkung Minta Warga Gotong-royong Melalui JKN-KIS

Tokoh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) di Kabupaten Klungkung, I Putu Suarta (57) ikut menunjukkan kepeduliannya kepada program JKN-KIS.

PHDI Klungkung Minta Warga Gotong-royong Melalui JKN-KIS
istimewa
Ketua PHDI Klungkung, I Putu Suarta 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Program Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) menjadi sorotan berbagai kalangan masyarakat termasuk para ahli dan tokoh-tokoh.

Program yang memiliki prinsip gotong-royong ini memang sedang diterpa permasalahan defisit yang terjadi setiap evaluasi tahunan yang disebabkan mismatch antara iuran yang diterima dengan biaya pelayanan yang dikeluarkan.

Hal tersebut tentu saja memancing berbagai reaksi para tokoh yang ingin ikut memberikan masukan atau solusi selain penyesuaian iuran yang akan diupayakan agar program yang menjadi harapan besar masyarakat Indonesia ini tetap berlangsung bahkan semakin baik.

Salah satu tokoh di Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) di Kabupaten Klungkung, I Putu Suarta (57) ikut menunjukkan kepeduliannya kepada program JKN-KIS.

Ia menyampaikan imbauan kepada masyarakat, umat se-dharma, hingga tokoh masyarakat agar ikut andil menyukseskan program JKN-KIS dan secara bersama-sama memenuhi kewajiban untuk tetap menjaga keberlangsungan program JKN-KIS.

“Saya mengimbau kepada seluruh umat se-dharma termasuk di dalamnya tokoh masyarakat dan yang lainnya untuk mengikuti program JKN-KIS yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan ini dengan baik, apalagi program JKN-KIS ini memiliki prinsip gotong-royong. JKN-KIS akan berjalan dengan baik apabila kita telah melaksanakan prinsip gotong-royong tersebut meskipun banyak terdapat kesulitan yang akan kita hadapi,” ungkap Suarta yang saat ini menjabat Ketua PHDI Klungkung.

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Satpol PP Klungkung ini dengan senang hati ikut mendukung program JKN-KIS sebab sebagai Ketua PHDI yang mengurusi langsung bidang keagamaan memiliki program yang sangat terkait dengan JKN-KIS.

Ia sangat memperhatikan kesehatan bagi pendeta dan pemuka agama yang bertanggung jawab memimpin upacara-upacara agama sehingga setiap pendeta sangat diutamakan menjadi peserta JKN-KIS sehingga kesehatannya dapat terjamin.

Selain itu menurutnya ajaran agama Hindu juga sangat berkaitan dengan program JKN-KIS ini, sebab peserta JKN-KIS tentu berasal dari beragam kalangan, baik yang kaya maupun yang miskin.

Lantas apa yang menurutnya berkaitan dengan ajaran agama? Dalam agama Hindu terdapat ajaran yang disebut punia dan merupakan bagian dari yadnya. 

Punia tersebut adalah santunan secara sukarela kepada yang membutuhkan.

Hal tersebutlah yang menurutnya wajib menjadi perhatian bagi umat se-dharma yang telah menjadi peserta JKN-KIS.

“Ajaran punia tersebut dapat kita amalkan melalui program JKN-KIS. Bagi peserta yang merasakan lebih mendapat anugerah dari Tuhan sudah menjadi kewajiban untuk mepunia atau menyantuni mereka yang kurang, yang sehat juga dapat berdharma kepada yang sakit. Hal inilah gotong-royong yang sangat utama dan JKN-KIS menjadi wadahnya,” lanjut Suarta.

Suarta juga mengajak kepada seluruh peserta yang taat beragama untuk melaksanakan segala kewajibannya, ajakannya kepada seluruh peserta agar melanjutkan kepesertaan program ini dan rutin membayar iuran setiap bulan tanpa mementingkan sakit atau sehat, sebab yang terpenting menurutnya adalah program ini dapat berjalan secara terus-menerus dan dapat dimanfaatkan bagi yang membutuhkan. (*)

Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved