40 Persen Sungai di Bali Tak Teraliri Air, Penggunaan Air Terbesar untuk Irigasi

Lanang mengatakan, dari jumlah 391 sungai, yang ada airnya hanya 60 persen, sedangkan sisanya 40 persen sudah tidak ada airnya.

40 Persen Sungai di Bali Tak Teraliri Air, Penggunaan Air Terbesar untuk Irigasi
Tribun Bali/Wema Satya Dinata
Suasana Symposium Suksma Bali dengan tema “Menyelamatkan dan Menjaga Keberlangsungan Air Bali” di Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR–Kebutuhan air bersih di Bali terus meningkat seiring dengan perkembangan penduduk dan perkembangan di berbagai sektor terutama sektor pariwisata.

Ketua Unit Penelitian Politeknik Negeri Bali, Gusti Lanang Made Parwita menyampaikan total potensi air di Bali adalah 7,57 miliar m3, terdiri dari 6,55 miliar m3, mata air 0,73 miliar m3 dan air tanah 0,29 miliar m3.

Potensi ini maksudnya total air yang bisa diambil, meskipun sulit untuk mengambilnya.

Sementara itu kebutuhan air di Bali adalah 1,37 miliar m3, digunakan untuk irigasi air 1 miliar m3 lebih, domestik 0,325 miliar m3 dan Non domestik 0,04 m3. Sedangkan total ketersediaan air di Bali adalah 0,9 miliar m3.

Salah satu sumber air adalah berasal dari aliran sungai. Adapun Sungai-sungai yang merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Bali berjumlah 391 buah, dengan panjang total keseluruhan 2.776 kilometer dan luas 5.636,66 km2.

Lanang mengatakan, dari jumlah 391 sungai itu, yang ada airnya hanya 60 persen, sedangkan sisanya 40 persen sudah tidak ada airnya.

Komisi Kepolisian Nasional Apresiasi Pelayanan Polda Bali pada WNA

Tahwan Diminta Tunggu Pembeli dari Denpasar, Polisi Gagalkan Penyelundupan 13 Penyu Hijau

“Seperti sungai di Nusa Penida, Jimbaran tidak ada airnya. Yang ada airnya seperti sungai di bawah Danau Beratan, Danau Batur dan lain-lain,” kata Lanang, saat menjadi pembicara dalam Symposium Suksma Bali dengan tema “Menyelamatkan dan Menjaga Keberlangsungan Air Bali” di Denpasar belum lama ini.

Penggunaan air terbesar di Bali dipergunakan untuk irigasi (pengairan sawah), yakni 72 persen.

Ia menerangkan, kebutuhan akan air untuk irigasi cukup banyak karena padi dapat menyerap air  2 liter/detik/hektar.

Permasalahan di Bali meskipun sudah ada alih fungsi lahan, namun kebutuhan air tetap tinggi karena petaninya tidak mau berinovasi dengan sistem SRI (System of Rice Intensification), yang merupakan usaha tani untuk dapat menghemat penggunaan input seperti benih, penggunaan air, pupuk kimia dan pestisida kimia.

Halaman
123
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved