Ribuan Krama Antar Jenazah Panglingsir Puri Agung Negara Gung Benny, Selamat Jalan Tokoh Toleransi

Ribuan Krama Antar Jenazah Panglingsir Puri Agung Negara Gung Benny, Selamat Jalan Tokoh Toleransi

Ribuan Krama Antar Jenazah Panglingsir Puri Agung Negara Gung Benny, Selamat Jalan Tokoh Toleransi
Tribun Bali/I Made Ardhiangga Ismayana
Ribuan Krama Antar Jenazah Panglingsir Puri Agung Negara Gung Benny, Selamat Jalan Tokoh Toleransi 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA- Pelebonan Panglingsir Puri Agung Negara, Anak Agung Gde Agung Benny Sutedja digelar, Minggu (20/10/2019).

Upacara dipuput Ida Pedanda Ratu Gede Grya Megati, Desa Batuagung, Kecamatan Jembrana.

Jenazah diiringi ribuan orang.

Mulai dari keluarga, kerabat dan warga Jembrana. Upacara pelebon putra pertama Gubernur Bali pertama, Anak Agung Bagus Sutedja diselenggarakan di Sema (kuburan) Desa Pekraman Adat Lelateng, Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara.

Nampak dari kalangan lintas agama menghadiri proses Pelebonan tersebut. Gung Benny lebih dikenal sebagai tokoh Pluralisme di Jembrana. Ia banyak berteman dan bersahabat dengan tokoh dan masyarakat lintas agama.

Jenazah Gung Benny ditempatkan dalam sebuah bade. Sanak keluarga mulai anak dan cucunya turut hadir. Berpakaian putih-putih menghantarkan sang tokoh ke peristirahatan terakhirnya.

Keluarga dan masyarakat nampak membopong bade Gung Benny. Dari Puri Negara, warga dan keluarga berangkat menuju ke Perempatan Jam Jalan Gatot Subroto Negara. Kemudian, beberapa kali berputar. Lalu menuju ke selatan. Selanjutnya ke Pura Dalem Lelateng dan berputar lagi menuju ke arah timur. Dan terakhir dibopong menuju ke Setra Lelateng.

Penulis Loloan Barat sekaligus Tokoh Muslim setempat, Eka Sabara mengatakan, sering becengkrama semasa hidupnya. Almarhum merupakan simbol toleransi dengan konsep 'menyamar beraya'. Sering bahkan, ketika ada acara yang berbau Hindu (upacara adat, Red). Kalangan muslim diminta untuk hadir. Tapi tidak diperkenankan menggunakan udeng. Malah harus memakai songkok (kopiah, Red).
"Ini ada salah satu adalah staf beliau. Ketika ada acara selalu ngomong mana songkokmu. Kamu kan muslim. Kamu jangan karena menghormati saya jadi lupa bahwa kamu muslim," kenang Eka Sabara.

Pelebonan sendiri digelar sekitar pukul 10.00 Wita. Hingga saat ini jenazah masih dalam prosesi pembakaran di Setra Lelateng. Turut hadir pula beberapa tokoh muslim dan juga Hindu. Salah satunya ialah Mantan Bupati Jembrana periode 1990-2000, IB Indugosa.

Eka mengaku, bagi warga Muslim Loloan Barat dan Timur tentu sangat berduka. Mereka mengenal sosok Gung Benny sebagai tokoh toleransi. Yang selalu menggaungkan nilai kehidupan rukun meskipun berbeda suku dan agama.
"Bagi kami almarhum tokoh pemersatu," ujar Eka.

Eka mengaku warga loloan merasa kehilangan tokoh pemersatu. Karena warga loloan memiliki sejarah dan hubungan kekeluargaan. Terutama Raja ke-VII Puri Agung Negara, Ida Anake Agung Bagus Negara memiliki saudara kandung yang tinggal di Loloan yang dipanggil Kompyang Syarif.
“Almarhum juga sering hadir di acara Loloan. Malah sempat membuka Festival Loloan Jaman Lame yang pertama," imbuhnya.

Menurutnya, almarhum merupakan tokoh panutan pemersatu. Generasi muda dari Loloan bahkan mulai menggali sejarah tempo dulu tentang awal mula Puri Agung Negara dan kaitannya dengan masyarakat Loloan yang merupakan keturunan suku Bugis Makasar.

Anak Agung Gde Agung Benny Sutedja, meninggal diusia ke-78 tahun. Gung Benny, menjalani perawatan sakit kanker prostat. Almarhum meninggal dunia di rumah sakit Kasih Ibu di Denpasar pada hari Jumat (4/10) sekitar pukul 18.00 Wita. (ang).

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved