Dharma Wacana
Pernikahan Agni Hotra
Dalam beberapa teks dikatakan, agni hotra merupakan rajanya upacara. Jadi, apapun ritual yang dilakukan, hanya dengan upacara agni hotra sudah cukup
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Irma Budiarti
Pernikahan Agni Hotra
Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
TRIBUN-BALI.COM - Menyatukan dua insan berbeda menjadi spirit, roh, dan filosofi upacara pernikahan di dalam ajaran Hindu.
Baik penyatuan secara fisik maupun psikologis.
Tetapi, ketika pernikahan tersebut dijadikan sebagai norma dari sebuah ideologi, lalu menjadi instrumen, di sinilah dia mengalami suatu proses keanekaragaman.
Di India, yang merupakan tempat agama Hindu itu hadir untuk pertama kalinya, praktik agama lebih bayak dilakukan secara jnana (pengetahuan).
Upacara-upacaranya adalah hal-hal yang bersifat prinsip.
Ketika ajaran Hindu ini masuk ke nusantara, tentu ideologinya sama, spiritnya juga sama, namun praktiknya mengalami variasi.
Terlebih lagi umat Hindu di Bali yang menganut paham Siwa Sidhanta.
• Angin Peralihan Musim Terjang Kintamani, Sejumlah Palinggih dan Rumah Warga Rusak
• Hidangan Gurami Unik di b Hotel Bali & Spa, The Best Gourami Dish in Bali
Dalam hal perkawinan, Siwa Sidhanta menerjemahkan ideologi Weda menjadi tiga, yaitu sekala, sekala-niskala, dan niskala.
Sekala dilakukan dengan prosesi makalan-kalan, yang tentunya berbeda dengan yang ada di India.
Sekala-niskala dilakukan dalam bentuk natab.
Terakhir niskala, dalam hal ini dilakukan dalam bentuk pewintenan.
Jadi, Siwa Sidhanta dalam menerjemahkan ideologi Weda itu lebih terurai dan rinci.
Sementara upacara agni hotra pada prinsip dasarnya sudah memenuhi kriteria upacara.
Dalam beberapa teks dikatakan, agni hotra merupakan rajanya upacara.
Jadi, apapun bentuk ritual yang dilakukan, hanya dengan upacara agni hotra sudah cukup.
Namun di Bali, setiap ritual itu kembali dibedakan, upacara untuk manusia, begini modelnya, upacara kematian begini modelnya.
Jadi, di Bali lebih bervariatif.
Dan, itu dibenarkan.
• Seputar CPNS 2019: Tata Cara Pendaftaran, Jadwal hingga Simulasi Soal Hanya di Link Resmi Ini
• Pemuda SMA Nyamar Jadi Wanita Cantik, Tipu Tetangga Rp 141 Juta Lewat Facebook
Namun sekarang permasalahannya, kadang-kadang kita saling menghakimi, menjustifikasi bahwa itu salah.
Dituding keindia-indiaan.
Sementara yang mengutamakan prosesi seperti India, juga menilai apa yang dilakukan Hindu di nusantara, Bali pada umumnya, salah.
Mirisnya lagi, saling menyalahkan ini juga terjadi di kalangan tokoh-tokoh.
Sering saya katakan, jika upacara di Bali dianggap membebankan, agni hotra bisa dijadikan sebuah opsi.
Prinsipnya sama, hanya infrastrukturnya yang berbeda, itu menurut saya.
Kalau kita terus-terusan saling menyalahkan, mohon maaf, apa bedanya kita dengan agama lain yang menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain yang walaupun mereka memiliki keyakinan yang sama.
Menurut saya, biarkan itu berkembang sebagaimana mestinya.
Sebab, tanpa kita memberikan opsi infrastruktur, agama kita akan ditinggalkan.
Maka dengan demikian, sulinggih-sulinggih dan masyarakat diharapkan bijaksana ketika melihat ada umat Hindu yang tidak menjalankan perkawaninan seperti yang dilakukannya, namun masih berada dalam koridor Weda.
Kita harus membuka cakrawala kita, karena Hindu pada dasarnya adalah bagaimana spirit dan nilai itu dipertahankan.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ida-pandita-mpu-jaya-acharya-nanda-saat-dijumpai-usai-menjadi-narasumber.jpg)