Wadahi Kegalauan Seniman Modern, Pemprov Bali Gelar Festival Seni Bali Jani 2019

Wadahi Kegalauan Seniman Modern, Pemprov Bali Gelar Festival Seni Bali Jani 2019, melibatkan seluruh seniman Bali

Wadahi Kegalauan Seniman Modern, Pemprov Bali Gelar Festival Seni Bali Jani 2019
Tribun Bali/Wema Satya Dinata
Suasana jumpa pers pelaksanaan Festival Seni Bali Jani 2019 di Ruang Rapat Padma, Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Selasa (22/10/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR–Ketua Tim Kurator Festival Seni Bali Jani  2019 sekaligus Rektor ISI Denpasar, Prof. I Gede Arya Sugiartha mengatakan selama ini ada stigma di masyarakat yang menganggap bahwa seni tradisi terlepas dari seni modern dan sebaliknya.

Serta ada anggapan bahwa seni tradisi dan  seni modern berjalan sendiri-sendiri. Maka dari itu pihaknya berharap dengan digelarnya Festival Seni Bali Jani 2019 bisa mendialektika antara seni tradisi dengan modern.

Prof Arya menjelaskan sesuatu yang berhasil menjadi tradisi sebelumnya pasti ditradisikan, atau dilakukan berulang-ulang yang berawal dari sebuah kreasi.

Selanjutnya kreasi itulah yang kemudian diterima menjadi tradisi. 

“Ini juga sebagai mata rantai, agar jangan juga yang tradisi dan modern itu selain agar tidak berjalan sendiri-sendiri, dia juga berdialog dan tidak dianggap sebagai sesuatu yang dioposisikan,” jelas Prof Arya saat jumpa pers di Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Selasa (22/10/2019).

Di samping itu tujuan diselenggarakannya festival ini adalah untuk mengakomodir kegalauan dari seniman-seniman modern dan kontemporer agar bisa terwadahi dalam pagelaran yang diselenggarakan secara resmi oleh Pemprov Bali, yaitu melalui Festival Seni Bali Jani ini.

Lanjutnya, walaupun tahun lalu sudah ada Bali Mandara Nawanatya dan Mahalango, sebenarnya idenya adalah sama.

Dalam kepemimpinan Gubernur Koster memiliki ide, agar seni tradisi difokuskan pada Pesta Kesenian Bali (PKB), sedangkan seni modern difokuskan pada pagelaran Festival Seni Bali Jani.

Menurutnya hal itu bukan berarti membeda-bedakan, tetapi dibuatkan format agar ada fokus dari penonton sekaligus mengajak masyarakat untuk mengapresiasi seni modern.

“Selama ini ada stigma seni modern tidak bisa dibawa ke banjar atau ke Pura, padahal tidak benar seperti itu,” tuturnya.

Halaman
12
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved