Bos Hotel Ini Disekap Komplotan Debt Collector, Dipaksa Tandatangani Surat Utang Rp 250 Juta

Sepak terjang komplotan debt collector (penagih utang) yang menyekap Direktur Utama PT Maxima Interindah Hotel, Engkos Kosasih berhasil dibongkar

Bos Hotel Ini Disekap Komplotan Debt Collector, Dipaksa Tandatangani Surat Utang Rp 250 Juta
Tribun Jakarta
Komplotan debt collector yang sekap bos sebuah hotel diringkus jajaran kepolisian Polres Metro Jakbar. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Muhammad Rizki Hidayat

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Sepak terjang komplotan debt collector (penagih utang) yang menyekap Direktur Utama PT Maxima Interindah Hotel, Engkos Kosasih berhasil dibongkar dan diringkus polisi. 

Gara-gara terjerat utang Rp 100 juta, bos Hotel Engkos Kosasih disekap dan diintimidasi selama berhari-hari oleh komplotan debt collector

Nahasnya, ia juga dipaksa menandatangani surat perjanjian oleh komplotan debt collector yang berisi utang Rp 250 juta. 

"Korban dipaksa untuk menandatangani perjanjian bahwa dia utang Rp 250 juta," kata Hengki seperti dilansir via Tribun Jakarta, seusai mengikuti apel konsolidasi kepolisian terpusat giat 'Mantap Brata' di halaman komplek DPR-MPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (29/10/2019).

Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Pol Hengki Haryadi, seusai mengikuti apel konsolidasi kepolisian terpusat giat 'Mantap Brata' di halaman komplek DPR-MPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (29/10/2019).
Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Pol Hengki Haryadi, seusai mengikuti apel konsolidasi kepolisian terpusat giat 'Mantap Brata' di halaman komplek DPR-MPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (29/10/2019). (TribunJakarta.com/Muhammad Rizki Hidayat)

Korban penyekapan ini adalah Direktur Utama PT Maxima Interindah Hotel, Engkos Kosasih yang disekap di dalam kamar Hotel Grand Akoya, Tamansari, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, lanjut Hengki, sebenarnya Engkos Kosasih berutang senilai Rp 100 juta.

Kemudian, sambungnya, Engkos Kosasih dipaksa menandatangani surat perjanjian tersebut.

Para pelaku juga melakukan intimidasi kepadanya.

"Ada dalam aturan hukum apabila perjanjian itu di bawah tekanan, di bawah paksaan, ataukah ada unsur pemukulan, itu tidak berlaku perjanjian itu," ujar Hengki.

Halaman
1234
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved