Kintamani Pengaruhi Suara Politik di Bangli? Ini Penjelasan Ketut Mastrem

Menjadi satu-satunya kecamatan dengan jumlah 48 desa, secara otomatis menjadikan Kintamani sebagai wilayah terluas di Kabupaten Bangli.

Kintamani Pengaruhi Suara Politik di Bangli? Ini Penjelasan Ketut Mastrem
Tribun Bali/Rino Gale
Menikmati akhir pekan dengan camping di Bukit Pinggan, sisi Barat Gunung Batur, Jalan Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Minggu (7/6/2019). 

Kintamani Pengaruhi Suara Politik di Bangli? Ini Penjelasan Ketut Mastrem

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Menjadi satu-satunya kecamatan dengan jumlah 48 desa, secara otomatis menjadikan Kintamani sebagai wilayah terluas di Kabupaten Bangli.

Dalam kontestasi politik, secara otomatis Kintamani merupakan wilayah dengan pemilih terbanyak.

Anggapan ini tidak dipungikiri politisi PDIP I Ketut Mastrem, Rabu (30/10/2019).

Ia membenarkan bahwa sekitar 42 persen pemilih di Bangli, berasal dari Kintamani.

Kendati demikian, dia menegaskan tidak selalu figure yang menjadi pemimpin nantinya, harus dari Kintamani.

“Sekarang masyarakat kita di Bangli, secara politis mereka sudah cerdas semua. Sudah tahu kualitas mana yang baik, mana yang bisa membangun Bangli. Mana yang mempunyai kekuatan untuk memajukan Bangli, mereka sudah paham itu. Dari hasil pemilu ke pemilu, itu sudah paham semua. (jadi) Masyarakat kita secara politis itu sudah sangat cerdas,” katanya.

Mastrem mengatakan, jika melihat periode sebelum-sebelumnya, Bupati Bangli tidak selalu berasal dari wilayah Kintamani.

Pun demikian, ketika sosok yang terpilih menjadi Bupati Bangli dari luar Kintamani, juga tidak melupakan untuk membangun Kintamani

“Seorang politisi pasti akan membangun secara merata. Apalagi sebagai pemimpin Bangli, dan Kintamani memiliki jumlah pemilih, penduduk dan wilayah paling luas, tidak mungkin seorang politisi tidak memperhatikan itu. Dan siapapun yang menjadi pemimpin di Bangli wajib hukumnya secara merata membangun Bangli, memperhatikan Bangli, tidak secara kewilayahan. Kalau jargon ini (kewilayahan) dikembangkan, umpamanya bupati dari Kintamani, apakah hanya membangun Kintamani saja? Lantas wilayah lain bagaimana?” ungkapnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved