KPID Bali Sebut Hanya 30 Persen Lembaga Penyiaran di Bali Mau Siarkan Lagu Anak

"Kami sering menemui lembaga penyiaran di Bali itu beralasan karena kekurangan materi program anak. Itu menjadi alasan mereka untuk tidak memutarkan

KPID Bali Sebut Hanya 30 Persen Lembaga Penyiaran di Bali Mau Siarkan Lagu Anak
Tribun Bali/Noviana Windri
Wakil Ketua KPID Bali, I Gusti Ngurah Murthana atau Rahman saat ditemui Tribun Bali di Jaki Food & Drink, Jalan Gatot Subroto, Denpasar, Sabtu (3/11/2019) 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Noviana Windri Rahmawati

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Lagu anak-anak sebenarnya ikut berperan dalam tumbuh dan kembang anak.

Lagu anak cenderung mengandung unsur religius, sosial, pengetahuan, kejujuran, kepedulian, kreativitas dan masih banyak lagi yang dapat membentuk karakter anak.

Namun, seiring perkembangan zaman, lagu anak saat ini sudah jarang terdengar dan sulit mendapat tempat khusus di hati masyarakat.

Dalam hal ini, lembaga penyiaran tidak bisa dilepaskan dari program anak yang memutarkan lagu-lagu anak.

Namun, kenyataannya saat ini hanya sedikitnya lembaga penyiaran seperti siaran radio dan televisi yang menyiarkan program anak.

Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali, I Gusti Ngurah Murthana atau lebih dikenal Rahman menuturkan pihaknya sering menemui alasan lembaga penyiaran tidak memutarkan lagu-lagu anak karena kekurangan materi program anak oleh lembaga penyiaran di Bali, baik radio maupun televisi.

Tak Perlu Pakai Obat Nyamuk, Begini Cara Mudah dan Efektif Mengusir Nyamuk

Antara Kesehatan dan Hiburan, Mana yang Lebih Penting?

"Kami sering menemui lembaga penyiaran di Bali itu beralasan karena kekurangan materi program anak. Itu menjadi alasan mereka untuk tidak memutarkan program bernuansa anak," ujarnya.

Rahman mengungkapkan hanya 30 persen lembaga penyiaran di Bali yang mau memutarkan lagu anak-anak.

"Hanya ada beberapa radio yang mau memutarkan lagu anak-anak. Dari 100 persen radio yang memutarkan lagu anak hanya 30 persen. Sangat minim bagi kami," ungkapnya

Menurutnya, minimnya lagu-lagu anak yang diputarkan di radio-radio disebabkan lagu-lagu anak yang ada belum terekspose dan jumlahnya terbatas.

Oleh sebab itu, pihaknya menyarankan lagu-lagu anak tetap dipasarkan secara konvensional melalui siaran radio maupun televisi meskipun saat ini sudah berganti era digital.

Resep Sup Jamur Asparagus, Sajian Hangat Dan Nikmat di Musim Hujan

Daftar Inpirasi Nama Bayi Perempuan dan Laki-laki Yang Bermakna Cinta Dan Kebaikan

Bukan tanpa alasan, karena pemasaran secara konvensional masih bisa menyentuh hingga ke pelosok-pelosok desa di Bali.

"Saya sarankan untuk lagu-lagu anak ini tetap dipasarkan secara konvensional melalui radio dan televisi meskipun sudah era digital. Karena konvensional ini masih menyentuh hingga pelosok desa. Terutama lagu Bali yang masih sangat diminati di pelosok-pelosok," ujarnya lagi. (*)

Penulis: Noviana Windri
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved