Banjar Dinas Ketug-Ketug Simpan Lontar Berusia 300 Tahun

Di Banjar Dinas Ketug-Ketug, terdapat sebuah lontar beraksara buda yang diperkirakan berusia 300 tahun.

Banjar Dinas Ketug-Ketug Simpan Lontar Berusia 300 Tahun
TRIBUN BALI
Lontar milik Dadia Arya Ularan didigitalisasi oleh tim Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng, bersama budayawan dan juga pemerhati lontar, Sugi Lanus.

Banjar Dinas Ketug-Ketug merupakan satu dari lima banjar yang ada di Desa Jinengdalem, Kecamatan/Kabupaten Buleleng. Di banjar ini, terdapat sebuah lontar beraksara buda yang diperkirakan berusia 300 tahun. Lontar milik Dadia Arya Ularan ini merupakan satu-satunya yang ada di Bali.

Ketua Dadia Arya Ularan, Gede Marayasa (52) saat ditemui belum lama ini menjelaskan bahwa lontar dengan jumlah 13 cakep itu merupakan warisan dari para leluhurnya. Kendati sudah ratusan tahun tersimpan di dalam Gedong Simpen Dadia Arya Ularan, Marayasa yang juga salah-satu anggota polisi di Mapolres Buleleng ini mengaku tidak mengetahui asal usul dari lontar tersebut. Begitu pula dengan isinya, baru diketahui oleh pihak keluarga pada 2018 lalu, setelah dikonservasi oleh para penyuluh Bahasa Bali.

Berdasarkan hasil konservasi, sebut Marayasa, di dalam lontar tersebut mengulas tentang ajaran Siwaisme. Setiap hari raya Saraswati, lontar-lontar itu pun diturunkan untuk diupacarai. "Setiap hari Saraswati, lontarnya diupacari. Karena usianya yang sudah ratusan tahun, lontar itu jarang dibersihkan. Namun beruntung kondisinya hingga saat ini masih bagus," katanya.

Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng, Ida Bagus Ari Wijaya mengatakan, lontar dengan aksara buda ini banyak ditemukan di lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu di Jawa. Berdasarkan katalog Perpustakaan Nasional, aksara buda diperkirakan berkembang pada zaman Kerajaan Majapahit dan terakhir digunakan pada tahun 1708 silam.

Lontar beraksara buda ini diakui Wijaya, merupakan lontar satu-satunya yang ditemukan di Bali. Kondisinya pun masih sangat bagus, begitu pula dengan tulisannya yang terlihat rapi.
"Lontar ini bisa jadi rujukan atau referensi bagi yang mau medwijati atau menjadi seorang sulinggih. Lontar seperti ini katanya juga ada di Gianyar. Tapi sampai sekarang kami belum melihat secara langsung," terangnya. (rtu)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Ni Ketut Sudiani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved