Didakwa Cabuli 15 Bocah Sesama Jenis, Rahmat Dituntut Kebiri Kimia. Modusnya Pembinaan Pramuka

Hukuman tambahan kebiri kimia bagi pelaku pencabulan kembali digunakan jaksa.

Didakwa Cabuli 15 Bocah Sesama Jenis, Rahmat Dituntut Kebiri Kimia. Modusnya Pembinaan Pramuka
Surya
Terdakwa Rahmat menjalani sidang tertutup di PN Surabaya, Senin (4/11/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, SURABAYA - Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Jatim, Sabetania menuntut terdakwa Rahmat Santoso Slamet (30), seorang instruktur Pramuka yang melakukan perbuatan cabul pada siswa binaannya dengan hukuman penjara selama 14 tahun dan kebiri kimia. Terdakwa juga dituntut dijatuhi denda sebesar Rp 100 juta subsider tiga bulan.

Tuntutan diajukan dalam sidang lanjutan di PN Surabaya, Senin (4/11/2019). Pada sidang tertutup ini, terdakwa awalnya ditemani seorang wanita lansia.

Selesai sidang, JPU Sabetania enggan memberikan komentar. "Ke pimpinan saja ya saya masih ada sidang lagi," dalihnya.

Saat kembali diwawancarai, Sabet menjawab: "ke kantor saja."

Perbuatan cabul terdakwa dilakukan sejak pertengahan 2016 hingga 2019. Modusnya, terdakwa mengajak beberapa siswa datang ke rumahnya dengan alasan ada binaan khusus tentang ilmu kepramukaan. Sedikitnya ada 15 anak di bawah umur yang menjadi korbannya. Para korban merupakan siswa binaan ekstrakulikuler dari lima SMP dan satu SD di Kota Surabaya

 Ada Korban Terindikasi Jadi Pelaku

ASPIDUM Kejati Jatim, Asep Mariono menyatakan, tuntutan hukuman kebiri yang dilayangkan untuk terdakwa Rahmat Santoso Slamet sudah berdasar beberapa pertimbangan.

Pertimbangan yang memberatkan, menurut Asep, terdakwa merupakan seorang pendidik yang seharusnya mengayomi siswanya. "Kedua, dari hasil psikologis, satu di antara korbannya terindikasi untuk menjadi pelaku," terang Asep saat dikonfirmasi melalui telepon, Senin (4/11/2019).

Tak hanya itu, lanjut Asep, perbuatan terdakwa juga telah berlangsung lama dari tahun 2016 hingga 2019. "Dan hukuman tersebut bisa berdampak jera bagi terdakwa," lanjut Asep.

Sebelumnya, Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Festo Ari Permana mengungkap, latar belakang terdakwa berperilaku cabul sesama jenis anak di bawah umur, karena  memiliki pengalaman buruk di masa lalu. Kepada polisi, terdakwa mengaku pernah menjadi korban pelecehan seksual oleh seseorang di masa lalu.

"Berdasarkan pernyataan dari si pelaku, ternyata si pelaku itu pernah diperlakukan semacam itu (pernah jadi korban pencabulan)," ujarnya, Selasa (23/7/2019) silam.

Namun Festo belum bisa memaparkan kapan dan dimana kejadian pencabulan yang dialami pelaku di masa lalu. "Nah untuk pastinya kami akan mendalami itu. Kapan si pelaku pernah punya pengalaman yang jadi korban pencabulan," ujarnya.

Mengingat pengalaman buruk itu telah membekas dalam diri pelaku, bisa muncul perilaku serupa di kemudian hari pada diri pelaku. (*)

Editor: Bambang Wiyono
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved