Esai

Ngarai Bali Megarupa

Bali Megarupa sebagai pembacaan awal dinamika seni rupa di Bali, tidak hanya ibarat sungai panjang yang bentangannya mengalir dari hulu ke hilir

Ngarai Bali Megarupa
Istimewa
Ngarai Bali Megarupa 

Oleh : Ni Ketut Sudiani

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Bali Megarupa sebagai pembacaan awal dinamika seni rupa di Bali, tidak hanya ibarat sungai panjang yang bentangannya mengalir dari hulu ke hilir. Melainkan pula bagai ngarai, lembah dalam dan luas yang isinya, mesti telah terkupas tuntas, namun selalu menyisakan misteri.

Hingga awal November ini, sepanjang tahun 2019, hadir sekian banyak agenda seni budaya. Termasuk pameran seni rupa yang menampilkan puluhan karya secara tunggal maupun komunal, baik oleh pelukis yang baru mengukuhkan kehadirannya, ataupun yang telah melalui pergulatan penciptaan yang panjang. Sebagian besar diselenggarakan oleh pihak swasta atau galeri-galeri seni milik pribadi.   

Pameran Bali Megarupa yang serentak dihadirkan di empat venue, yakni Museum Puri Lukisan, Museum Arma, Museum Seni Neka, dan Bentara Budaya Bali dapat dikata cukup berbeda dengan perhelatan yang telah ada. Patut dicatat, bukan hanya karena penyelengaranya Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan, melainkan lebih jauh dari urusan teknis itu adalah momen ini dapat dibaca sebagai sebuah harapan baru, bagaimana pemerintah kali ini secara sungguh memberi atensi kepada para kreator.

“Ini adalah momen yang ditunggu-tunggu, dan berikutnya yang lebih penting, bagaimana ke depannya?” ucap Ketut Budiana, pengarah Bali Megarupa. Nyoman Erawan yang juga adalah pengarah, saat pembukaan di Museum Arma, 22 Oktober lalu, bahkan secara khusus memberikan pemaknaan melalui Pertunjukan Ritus Seni Tarirupabunyi Kidung Megarupa.

Sebagaimana berulang kali ditekankan oleh para kurator yang terdiri dari Wayan Sujana Suklu, Wayan Jengki Sunarta, I Made Susanta Dwitanaya, dan Warih Wisatsana, bahwa pameran akbar ini adalah upaya “pembacaan awal” berkaitan dengan sejarah, proses, pergerakan, dan pertumbuhan seni rupa di Bali. Begitu pula ditegaskan Ketua Panitia, Made Kaek Dharma Susila, eksibisi kali ini bukan sebuah tanda titik, melainkan koma yang akan terus memberikan ruang untuk dialog-dialog selanjutnya.

Semuanya terangkum dalam satu tema besar yakni Tanah, Air, dan Ibu, yang kemudian terbagi menjadi empat sub tema yakni Hulu, Arus, Campuhan, dan Muara. Keseluruhannya, tercatat ada 103 seniman yang terlibat dalam pameran yang berakhir hingga 10 November ini.

Mereka berasal dari lintas generasi dan wilayah penciptaannya pun lintas medium, matra, dwimatra, trimatra, hingga yang secara bebas memadukan dengan perangkat-perangkat teknologi yang memberikan kemungkinan-kemungkinan baru interaksi dan partisipasi publik. Mereka melakukan penjelajahan akan jalan tak berujung, pada ngarai Bali Megarupa yang dalam dan luasnya tak habis tergali.  

Sebagaimana kata yang disematkan, sub Muara yang berlokasi di Bentara Budaya Bali menghadirkan karya yang lebih beraneka, terbuka mengeksplorasi ruang serta akan kolaborasi antar seniman. Wayan Sujana Suklu menuliskan pendekatan instalasi karya perupa masa kini memaparkan pemandangan yang semakin total dan konseptual. Sejumlah 29 seniman di venue Muara menunjukkan kebiasaan memanfaatkan media baru dalam praktek penciptaan, kode simbolik media secara sadar digunakan sebagai power entitas estetik media.

Menurut Suklu, selain bergulat dengan dirinya, perupa yang telah menetapkan perspektif penciptaan dalam berkarya bergulat tanpa henti dengan medium yang dipilihnya. Hal ini menjadi wilayah ketegangan yang mengasyikkan dan sengaja dipelihara perupa. Mereka tak henti-hentinya melakukan penyempurnaan diri.

Sementara itu, sebagai sebuah mula, I Made Susanta Dwitanaya menilai pada Hulu terbaca tiga karakter basis penciptaan. Pertama adalah para perupa yang menghadirkan karya dengan basis seni rupa tradisi maupun perkembangannya. Kedua seni rupa tradisi dan klasik Bali juga tumbuh dalam dua lokus penciptaan. Ketiga, selain diwariskan dan diteruskan secara komunal oleh masyarakat pendukungnya, dari masing-masing gaya atau dialek visual seni rupa tradisi ataupun klasik yang disebutkan di atas terdapat pula seniman-seniman yang melakukan pencarian, dan pengolahan lebih jauh atas dialek rupa komunal tersebut hingga mempribadi dalam ruang-ruang kreativitas personal mereka.

Mengalir dari hulu, pada Arus, Wayan Jengki Sunarta menegaskan para perupa tersebut dipilih dengan berbagai pertimbangan, antara lain keaktifan berkarya dan berpameran, eksplorasi teknik dan tematik. Tentu dalam proses ini terbuka kemungkinan nama-nama potensial yang luput dari perhatian. Namun, pameran ini tidaklah dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan mempresentasikan keunggulan pencapaian para perupa terpilih tersebut.

Meski setiap individu pada akhirnya menempuh jalan masing-masing, namun ‘Campuhan’ selalu menjadi ruang pertemuan di mana segala hal membaur dan melebur. Warih mengungkapkan, 22 pelukis lintas generasi pada venue Campuhan, seluruh perangkat artistik yang mengemuka pada karya-karya para perupa tak lain adalah buah ketekunan, teruji lewat pola pewarnaan yang matang maupun penekanan unsur grafis atau drawing yang selaras dengan ikon-ikon atau kosarupa pilihan. Ciri yang menautkan seluruh karya mereka adalah ada atau tidaknya unsur naratif berikut irama visual yang membangun kepaduan komposisi secara keseluruhan.

Sekali lagi, walaupun keempat kurator telah mengupas lewat catatan kuratorial masing-masing dan beragam interpretasi muncul dari publik dengan sudut pandang yang beraneka, setiap karya tetap memiliki jalan nasibnya sendiri-sendiri. Kembali diingatkan perupa Ketut Budiana, “apa selanjutnya? (*)

Penulis: Ni Ketut Sudiani
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved