Warga Bajera Kelod Keluhkan Pelayanan PDAM Tabanan, Air Hidup Hanya 4 Jam dan Berwarna Keruh

Warga Banjar Bajera Kelod, Desa Bajera, Kecamatan Selemadeg, mengeluhkan pelayanan PDAM Tabanan.

Warga Bajera Kelod Keluhkan Pelayanan PDAM Tabanan, Air Hidup Hanya 4 Jam dan Berwarna Keruh
KOMPAS.com
Ilustrasi air bersih 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Warga Banjar Bajera Kelod, Desa Bajera, Kecamatan Selemadeg, mengeluhkan pelayanan PDAM Tabanan.

Selain airnya hanya hidup di jam-jam tertentu, kualitasnya juga dikeluhkan karena kerap berwarna kecokelatan.

Warga menilai permasalahan ini selalu terjadi setiap tahunnya sehingga harus ada solusi dari PDAM Tabanan untuk mengatasinya.

Di Banjar Bajera Kelod, sumber airnya adalah dari Tukad Yeh Metan yang kemudian diolah dan disalurkan ke pelanggan PDAM.

Namun, diduga masalah kesulitan air baik di musim kemarau maupun musim hujan karena mesin pengolahan yang digunakan tak maksimal.

“Ini masalahnya sudah lama dan perlu solusi agar tidak terus terjadi. Di sini jam tertentu saja hidupnya, satu hari hidup palingan hanya empat jam,” ujar warga yang enggan disebutkan namanya.

Karena airnya yang hidup tak menentu, minimal warga harus menyediakan bak penampungan agar bisa menampung air untuk digunakan dalam waktu satu hari.

Jika tidak, warga akan kesulitan air.

Selain itu, kata dia, warna air juga kerap berwarna kecokelatan kemungkinan tercampur tanah karena sistem pengolahannya yang kurang maksimal.

“Apalagi kadang-kadang saat upacara yadnya di pura airnya juga mati, kan jadi susah kami,” keluhnya.

Halaman
12
Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved