DLHK Badung Minta Optimalkan Rumah Hijau

Setelah disetop untuk membuang sampah ke TPA Suwung,Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung minta optimalkan Rumah Hijau.

DLHK Badung Minta Optimalkan Rumah Hijau
TRIBUN BALI
TRIBUN BALI / I KOMANG AGUS ARYANTA PENAMPUNGAN - Kondisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R yang ada di Terminal Mengwi yang sedang dikaji untuk menampung sampah di Badung, Selasa (5/11).

MANGUPURA, TRIBUN BALI – Setelah disetop untuk membuang sampah ke TPA Suwung, Pemerintah Kabupaten Badung seakan kelimpungan dalam menghadapi sampah. Berbagai upaya coba dilakukan, namun belum juga menemukan titik temu.

Menyikapi hal itu, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung mengkaji beberapa tempat untuk dijadikan TPS sementara. Langkah ini diambil sembari menunggu pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang akan dibangun pemerintah tahun 2020.

Menurut informasi yang didapat, tempat yang dikaji DLHK untuk TPS sementara adalah Rumah Hijau yang berlokasi di Puspem Badung dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R yang ada di Terminal Mengwi. Kedua lokasi tersebut kabarnya akan dimaksimalkan untuk penanganan sampah di Gumi Keris.

Kepala Dinas LHK Kabupaten Badung, I Putu Eka Merthawan, saat dikonfirmasi membenarkan hal tersebut. Pihaknya mengaku TPS sementara dibutuhkan sambil menunggu tempat pasti untuk pembangunan TPA secara permanen.

“Kami sudah mengkaji dua tempat. Satu di Rumah Hijau di Puspem Badung dan tempat kedua adalah di TPST 3R di Mengwitani, Kecamatan Mengwi,” terangnya Selasa, (5/11).

Ia mengatakan, kedua tempat tersebut bisa menjadi solusi sementara lantaran luas lahan Rumah Hijau sekitar 25 are. Sedangkan untuk TPST 3R luasnya dua kali lipat dengan rumah hijau yakni sekitar 50 are. “Iya mungkin ini jadi solusinya,” ungkapnya.

Birokrat asal Kelurahan Sempidi, Kecamatan Mengwi itu menegaskan bahwa dua tempat yang dijajaki ini bukanlah tempat baru. Melainkan sudah berjalan lama. “Sebetulnya mengoptimalkan saja tempat yang sudah ada. Jadi, sampah yang kami angkut di fasilitas publik nanti akan diolah di sana. Tapi nanti keputusan tetap ada di tangan pimpinan,” kata Merthawan.

Disinggung apakah sudah ada lahan pasti untuk pembangunan TPA secara permanen dengan lahan yang lebih luas, Merthawan hanya menjawab normatif. “Ya, masih on proses (pembangunan TPA-nya, red), karena tentu butuh lahan lebih luas,” ucapnya.

“Yang jelas TPA yang kita bangun bukan TPA yang dibiarkan terbuka, melainkan tertutup. Bahkan sampah yang masuk setiap hari akan langsung diolah seketika,” tegas Merthawan. (gus)

Penulis: I Komang Agus Aryanta
Editor: Ni Ketut Sudiani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved