Breaking News:

Mayat Juragan Kopi Diseret Istri dan Anaknya, Dikubur di Dapur Dijadikan Tempat Salat

Pembunuhan tujuh bulan lalu diungkap sendiri oleh pelakunya dengan cerita bohong akibat tak dapat pembagian duit dari ibunya.

dokumentasi Polres Jember
Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal menginterogasi tersangka Bahar. 

Tidak ada yang curiga dengan peristiwa itu. Hingga akhirnya, Minggu (3/11/2019), Bahar sendiri membuka kematian ayahnya.

Dia mengarang cerita kepada Kepala Dusun Juroju, Misri bahwa ayahnya telah meninggal dibunuh Jumarin, suami siri ibunya.

"Kata Bahar waktu cerita ke saya, ayahnya katanya dibunuh oleh lek-nya. Lek-nya itu mengacu kepada suami siri Busani. Waktu cerita ke saya, saya kan nggak ngerti apakah itu benar atau tidak. Kalau tidak benar, kan berarti dia mengarang cerita. Namun tentang tidak adanya Pak Wid (panggilan Surono, red), memang saya ketahui sudah agak lama. Dia lama tidak terlihat," ujar Misri.

Setelah mendengar cerita, akhirnya Misri dan Bahar mendatangi Polsek Ledokombo melaporkan peristiwa itu.

Dari sinilah, akhirnya misteri hilangnya Surono terkuak. Surono tidak hilang, namun dibunuh anak dan istrinya kemudian dikubur di rumahnya sendiri. Kejadian tujuh bulan lalu itu pun terbongkar.

"Motif pembunuhan itu karena ekonomi, juga ada dendam yang dilatarbelakangi asmara," ungkap Kapolres.

Surono merupakan petani kopi yang memiliki penghasilan cukup banyak di daerahnya.

Setahun sekali dari hasil panen kopi, dia bisa mendapatkan hasil penjualan Rp 90 juta hingga Rp 100 juta. Belum lagi, pendapatan dari komoditas pertanian lain yang ditanamnya.

Busani dan Bahar jengkel karena hanya mendapat bagian hasil panen yang sedikit. Bahkan Busani curiga, uang hasil panen itu diberikan Surono kepada WIL-nya. Akhirnya, Bahar dan Busani menyusun rencana pembunuhan. (*)

Editor: Bambang Wiyono
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved