Mice Bisa Jadi Alternatif Dongkrak Pariwisata

Pertumbuhan kunjungan wisman ke Indonesia sebesar 5 persen, pertumbuhan wisman yang berkunjung ke Bali melambat (-) 4,5 persen

Mice Bisa Jadi Alternatif Dongkrak Pariwisata
Tribun Bali / Busrah Hisam Ardans
ABADIKAN MOMEN - Turis asing mengabadikan layangan yang mengudara di Festival ke-40 Kite Bali yang digelar di Pantai Padang Galak, Minggu (1/7/2018) sore tadi. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Peran Bali sebagai barometer kinerja pariwisata nasional, menghadapi tantangan dengan menurunnya pangsa kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali terhadap nasional dari 41 persen pada triwulan II 2018 menjadi 38 persen pada triwulan II 2019. Hal ini tercermin pada perbedaan laju pertumbuhan kunjungan wisman ke Indonesia dan ke Bali.

Pada triwulan II 2019, pertumbuhan kunjungan wisman ke Indonesia sebesar 5 persen. Namun pertumbuhan wisman yang berkunjung ke Bali melambat (-) 4,5 persen. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, mengatakan spending rate menurun dari negara mayoritas. Seperti spending rate wisman dari China, turun dari Rp 9,6 juta pada 2017 menjadi Rp 8,8 juta pada 2018. Ini menunjukkan adanya penurunan kualitas wisman.

"Selain itu kinerja pariwisata juga dipengaruhi oleh persaingan destinasi wisata dunia. Tapi kunjungan wisman ke negara lain seperti Thailand malah naik," katanya. Lanjutnya, menghadapi semakin menurunnya kualitas wisman dan semakin berkembangnya destinasi wisata di negara kompetitor. Maka Bali ke depan harus segera menerapkan quality tourism. "Ini bisa diwujudkan dengan kesetaraan kualitas antara supply-demand. Antara destinasi/produk wisata dan wisatawan yang berkunjung dan sebagainya," katanya.

Pengembangan quality tourism, kata dia, dapat dilakukan dengan strategi pengembangan wisata minat khusus seperti MICE tourism dan health tourism. Meeting, Incentive, Travel, dan Conference (MICE), merupakan salah satu wisata minat khusus yang diperuntukkan bagi kelompok Business visitor. "Menurut WTO, MICE adalah kegiatan wisata yang memberikan dampak signifikan pada Gross Domestik Bruto suatu negara," sebutnya.

Pentingnya pengembangan MICE, karena pesertanya memiliki spending power yang besar dan tidak tergantung pada season pariwisata. "Sebagai contoh, spending rate Business visitor atau MICE di Thailand tercatat 3,5 kali lebih tinggi dibanding leisure visitor," katanya. Kementerian pariwisata menetapkan 16 destinasi MICE di Indonesia, namun belum masif dikembangkan. Destinasi MICE tersebut diantaranya, Jakarta, Bali, Surabaya, Medan, Padang, Palembang, hingga Balikpapan.

Sejak 2010, Bali selalu menduduki rangking teratas dibanding 15 destinasi MICE lainnya di Indonesia. "Rangking tertinggi yang pernah didapatkan Bali adalah pada 2012 dengan 55 pertemuan,sedangkan lainnya hanya 40 pertemuan," sebutnya. Salah satu negara tujuan utama MICE adalah Singapura. Negara ini memiliki lebih dari 1.700 pilihan venue dan kualitas terkini. Kemudian Bandara Changi terhubung ke-400 kota di dunia. Hal ini perlu ditiru oleh Bali dan kota besar lainnya sebagai tujuan MICE di Indonesia.

"Untuk mendukung MICE, Bali telah dilengkapi sarana dan fasilitas untuk pertemuan skala internasional. Misalnya kawasan Nusa Dua yang eksisting memiliki dua convention, 16 hotel,5 villa, 1 rumah sakit, 1 theater dan lainnya," sebut Trisno. Bahkan saat ini kawasan Nusa Dua terus dikembangkan dengan dibangunnya Crea Resort Office 75 block. The Shangri La 299 kamar dan 40 villa. Awarta Villas 14 villa dan 68 suite. Serta Renaissance dengan 300 kamar dan 168 villa. (ask)

Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved