Pengembang Perumahan di Poh Manis Minta Perbekel Segera Tanda Tangan

Pengembang perumahan di Banjar Poh Manis, Desa Kesiman yang proyeknya disegel oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Denpasar angkat bicara.

Pengembang Perumahan di Poh Manis Minta Perbekel Segera Tanda Tangan
TRIBUN BALI
PENGEMBANG - Penanggungjawab proyek pembangan perumahan di kawasan Poh Manis, Penatih Nyoman Astika saat ditemui di Denpasar, Jumat (8/11/2019).

DENPASAR, TRIBUN BALI - Pengembang perumahan di Banjar Poh Manis, Desa Kesiman yang proyeknya disegel oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Denpasar angkat bicara. Penanggungjawab proyek, Nyoman Astika mengakui sampai saat ini memang belum ada Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).

Ia mengaku proses pengurusan izin pembangunan kawasan perumahan seluas 40 are itu tersendat lantaran kepala dusun (kadus) dan kepala desa (perbekel) enggan untuk tanda tangan. Menurutnya, ia sudah mulai mengurus IMB sejak 2016 lalu.

Astika juga mengaku bertemu dengan kepala desa beberapa waktu lalu. Saat pertemuan tersebut, kepala desa membuat surat pernyataan yang menegaskan bahwa dirinya masih keberatan dengan proyek tersebut. Jika setelah dilantik tanggal 11 November ini kepala desa masih enggan untuk menandatangani urusan IMB, Astika mengancam akan menempuh jalur hukum.

"Dari Perbekel dulu kami tuntut karena melalaikan tugas lah kepada masyarakat. Karena kami tidak ada melanggar di sini, kecuali areal kami jalur hijau. Saya kan masyarakat, walau tidak banjar di sana kan masyarakat juga namanya," katanya saat ditemui di Denpasar, Jumat (8/11).

Pihaknya juga berencana akan menuntut kerugian yang selama ini sudah dirasakan dari tahun 2016 hingga sekarang. Astika mengatakan, bahwa kerugian itu bisa mencapai Rp 10 miliar.

Ia mengatakan kepala desa tidak mau menandatangani karena pembangunan tersebut dinilai tidak relevan dan tidak jelas sebagaimana hasil rapat krama yang kemudian memutuskan tidak setuju dengan pembangunan tersebut.

"Alasannya ini yang saya cari tidak jelas," kata dia. Astika mengatakan jika terus didiamkan dan tanpa adanya pengelolaan, maka dirinya takut tak bisa membayar bunga bank yang setiap bulannya terus meningkat. (sui)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Ni Ketut Sudiani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved