Ratusan krama Desa Pakraman Apuan dan Jelantik Usir Wabah dengan Nangluk Merana

Ratusan krama Desa Pakraman Apuan dan Jelantik, Kecamatan Baturiti, Tabanan, melaksanakan ritual nangluk merana pasca 8 subak diserang hama tikus.

Ratusan krama Desa Pakraman Apuan dan Jelantik Usir Wabah dengan Nangluk Merana
TRIBUN BALI
Ratusan krama Desa Pakraman Apuan dan Jelantik, Kecamatan Baturiti, Tabanan, berjalan mengelilingi subak di wilayah setempat melaksanakan ritual nangluk merana. 

Ratusan krama Desa Pakraman Apuan dan Jelantik, Kecamatan Baturiti, Tabanan, mengenakan pakaian adat berjalan mengelilingi subak di wilayah setempat. Mereka melaksanakan ritual nangluk merana (menolak bala) pasca 8 subak diserang hama tikus.

Sesuhunan Ratu Alit yang berwujud Rangda, diiringi ratusan warga nguya (keliling) mengitari sawah seluas 100 hektare sembari menepuk kulkul dan bersorak selama kurang lebih 7 jam lamanya dari pukul 09.00 Wita hingga 16.00 Wita.

Bendesa Adat Apuan, I Ketut Cakra menuturkan ritual ini mulai dilaksanakan sejak tahun 1980an. Saat itu wilayah setempat terserang hama wereng hingga mengakibatkan petani mengalami gagal panen. Karena itu, paruman (rapat) pun diadakan di desa setempat dan krama sepakat untuk menggelar ritual nangluk merana. Di desa pakraman setempat juga terdapat sesuhunan yang berstana di Pura Puncak Peninjoan mepesengan Ratu Alit yang berhubungan dengan penolak bala. Sesuhunan pun ngunya (keliling) di subak dan setelah itu hama wereng seketika menghilang.

Setidaknya, sudah tiga kali ritual serupa dilaksanakan karena setelah diserang hama wereng, subak setempat diserang hama balang sangit, kemudian diserang hama tikus. Begitu juga tahun 2019 ini atau sekitar 3-4 bulan lalu, hama tikus tersebut kembali ngerebeda hingga mengakibatkan lahan pertanian di subak setempat mengalami gagal panen. Ada 8 subak di Desa Pakraman Apuan yang terdampak di antaranya Subak Apuan, Subak Bakungan Kelod, Subak Bakungan Kaja, dan Subak Pengootan. Sedangkan untuk di Desa Pakraman Jelantik di antaranya Subak Jelantik, Bugbugan 1, Subak Bugbugan 2 dan Subak Babakan. 8 subak ini memiliki luas sekitar 100 hektare.

Selain di subak, ternyata hama tikus juga banyak ditemukan di rumah-rumah warga. Sehari sebelum prosesi ini, seluruh warga juga diminta untuk membawa canang dan memohon tirta (air suci) untuk selanjutnya dipercikkan di penjuru rumah masing-masing.

"Semua subak di sini mengalami gagal panen sehingga kami bersama para panglingsir, masyarakat, serta pihak subak kembali menggelar nangluk merana ini karena sudah merupakan dresta (kebiasaan) di wilayah kami," jelas belum lama ini.

Lanjut Ketut Cakra, prosesi ritual ini dimulai sekitar pukul 09.00 Wita hingga pukul 16.00 Wita yang melewati delapan Pura Bedugul dengan perkiraan belasan kilometer. Awalnya, dari Pura Puncak Peninjoan, Ida Sesuhunan dipundut menuju Pura Bukit Sari Desa Apuan untuk dilaksanakan upacara persiapan Nangkluk Merana. “Intinya kami memohon kepada Ida Sesuhunan Ratu Alit,” imbuhnya.

Setelah semua siap dilaksanakan, Ida Sesuhunan kemudian dipundut untuk Ngunya (keliling) dengan diiringi gambelan kulkul menyusuri persawahan di Desa Apuan dengan luas sekitar 100 hektare.
Selain kulkul, warga juga memukul tanah sawah dengan pohon bongkot sembari mesuryak (bersorak). Prosesinya mirip dengan mebuu-buu saat Pangrupukan (sehari sebelum Nyepi).

"Semua warga di desa juga terlibat mengiringi Ida Sesuhunan keliling subak sembari menggebug kulkul dan memukulkan pohon bongkot serta masuryak dengan harapan bisa mengusir seluruh hama yang ada" jelasnya. (mpa)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Ni Ketut Sudiani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved