Murahwan Ngamuk di TPS Bawa Celurit Merusak Kotak Suara, Ini Masalahnya

Tiba-tiba seorang warga mengamuk di dalam TPS saat Pilkades di Sumenep Madura merusak kotak suara dengan celurit.

Murahwan Ngamuk di TPS Bawa Celurit Merusak Kotak Suara, Ini Masalahnya
tribunmadura.com
Murahwan masuk ke TPS mengamuk membaca celurit merusak kotak suara. 

TRIBUN-BALI.COM, SUMENEP - Meski Polres Sumenep, Madura menerjunkan 10 ribu personel, mulai TNI, Polri dan Linmas dalam mengawal Pilkades serentak 2019, namun pesta demokrasi ini diwarnai kisruh yang menegangkan pada Kamis (7/11) lalu.

Terjadi pengancaman warga di dalam Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan menggunakan celurit saat berlangsungnya coblosan di Dusun Duko Desa Aeng tongtong, Saronggi, Sumenep.

Pengancaman itu dilakukan oleh Murahwan (55) dan Halim (60), keduanya warga Desa Aeng Tongtong. Mereka datang ke TPS dengan membawa celurit dan langsung menebaskan ke kotak suara.

"Keduanya (Murahwan dan Halim) ini dilaporkan oleh saudara Hermanto (49) warga setempat dan saat ini sudah ditangkap," kata Kasubag Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti Sutioningtyas, Sabtu (9/11/2019).

AKP Widiarti menjelaskan, kedua warga ini melakukan tindak pidana pengancaman, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 335 ayat (1) ke-1 dan Pasal 406 ayat (1), KUH Pidana.

Kisruh terjadi sekitar pukul 15.20 WIB saat proses penghitungan suara. Tiba tiba datang Murahwan ke dalam TPS membawa celurit.

"Saat itu dia datang membawa celurit lalu masuk ke dalam TPS dan langsung menebaskan celuritnya ke kotak suara Dusun Gendis, sehingga penghitungan berbenti. Orang-orang yang ada di dekat kotak langsung menyingkir," paparnya.

Sambil mengayunkan celurit ke kotak suara, Murahwan berteriak-teriak. "Saya ditipu."

Dua petugas TPS, Sabar dan Imam bersama pihak kepolisian mengamankan Murahwan dibawa keluar TPS.

Namun tidak lama kemudian, Halim yang juga berada di dalam TPS ikut berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjukan tangannya ke arah warga yang ada di sekitar TPS.

"Kalau sampai kalah, kampung tidak akan aman, dan saya musuhnya," kata Widiarti menirukan teriakan Halim.

Akibat insiden itu, warga Dusun Endana ketakutan karena Murahwan dan Halim merupakan tim sukses dari calon kepala desa nomor 2 yang saat itu hasil sementara diunggulkan oleh calon nomor 1.

"Dari kejadian tersebut, warga Dusun Endana merasa ketakutan, karena hasil akhir penghitungan calon nomor 2 kalah, dan kotak suara untuk Dusun Gendis dirusak," ungkapnya. (*)

Editor: Bambang Wiyono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved