Seluruh ST di Desa Penarungan Ikut Mebat

Sekaa Teruna Acarya Perkasa Banjar Blungbang, Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Badung selalu berupaya menjaga tradisi Bali, termasuk lewat mebat.

Seluruh ST di Desa Penarungan Ikut Mebat
TRIBUN BALI
MEBAT - Sekaa Teruna Acarya Perkasa Banjar Blungbang, Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Badung saat menggelar lomba mebat dengan melibatkan sekaa seluruh Desa Penarungan. 

Sekaa Teruna Acarya Perkasa Banjar Blungbang, Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Badung selalu berupaya menjaga tradisi Bali. Saat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke 39, Sekaa Teruna menggelar lomba mebat dengan melibatkan sekaa seluruh Desa Penarungan.

Ketua ST Acarya Perkasa, I Nyoman Bayu Ariyadi mengatakan kegiatan itu merupakan rangkaian perayaan HUT Sekaa Teruna ke 39. Menurutnya mebat mencerminkan tingkat kebersamaan antar pemuda Desa Penarungan.
“Tidak hanya untuk mengenal tradisi, tapi dalam lomba mebat ini kami libatkan semua sekaa teruna yang ada di desa sehingga menjalin rasa persaudaraan antar semua sekaa teruna,” katanya.

Ia mengatakan makanan Bali identik dengan lawar sehingga pemuda yang juga merupakan generasi penerus, wajib bisa dan tahu bagaimana prosesi mebat untuk membuat lawar.

“Lomba yang dilaksanakan untuk menjaga dan melestarikan budaya yang ada di Bali. Semua anggota sangat antusias mengikuti lomba tersebut. Tujuannya bukan untuk tahu bagaimana wujud lawar itu, tapi bagaimana prosesi pengerjaannya,” ungkapnya sembari mengatakan lawar tersebut juga akan digunakan untuk persembahan saat piodalan.

Ariyadi mengatakan seluruh sekaa teruna yang ada di Desa Penarungan diundang untuk mengikuti lomba. Pada lomba tersebut, seluruh Sekaa Teruna mengirimkan enam anggota sebagai perwakilan.

“Daging yang diolah adalah daging babi yang umum dimasak oleh masyarakat Bali,” jelasnya.

Selain melihat sajian dan rasa lawar, proses pembuatannya juga dinilai seperti halnya memotong daging, mempersiapkan bumbu dan yang lainnya. Pasalnya cara pemotongan daging dalam membuat lawar berbeda, yakni dengan cara dipotong kecil-kecil.

“Semua ini menurut kami adalah proses sehingga kelak ke depan generasi muda menjadi masyarakat Bali yang tulen, yang tahu akan tradisi budaya yang ada dan tidak mengurangi budaya yang dimiliki,” pungkasnya. (gus)

Penulis: I Komang Agus Aryanta
Editor: Ni Ketut Sudiani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved