Perajin Perak Baler Bale Agung Kalah Saing dengan Pabrik

Selama beberapa tahun terakhir ini kerajinan perak di Baler Bale Agung, Kecamatan Negara terpuruk. Mereka kalah dengan produk hasil pabrik.

Perajin Perak Baler Bale Agung Kalah Saing dengan Pabrik
TRIBUN BALI
PERAJIN PERAK - Suasana bengkel kerajinan perak Corak Bali Handycraft, Selasa (12/11). Selama tiga tahun belakangan ini permintaan sangat sepi. 

Kerajinan perak termasuk salah-satu sumber pendapatan utama yang dapat mengangkat perekonomian warga Kelurahan Baler Bale Agung, Kecamatan Negara. Sayangnya, selama beberapa tahun terakhir ini kerajinan perak terpuruk. Padahal, banyak warga yang menggantungkan harapan dari mengolah perak menjadi cindera mata.

Perajin perak Baler Bale Agung, Komang Putra Pujayana mengatakan dahulu memang banyak pekerja dari lingkungan Baler Bale Agung yang dapat bekerja di tempatnya. Namun, selama beberapa tahun terakhir ini keadaan cukup sepi. Pesanan bahkan hampir tidak ada, baik untuk pembeli lokal di Jembrana maupun dari luar daerah.

"Kayaknya sudah hampir tiga tahun ini. Sudah sepi sekali. Tidak tahu apa penyebabnya," ucapnya Selasa (12/11).
Menurut pria yang akrab disapa Nombling itu, dugaannya memang karena harga perak naik sehingga art shop tidak bisa menjual. Lantaran art shop sepi, maka itu pun berdampak pada proses pengerjaan di 'bengkel'-nya. Biasanya pesanan perak berasal dari art shop di Kuta.

"Sekarang semua sepi. Dari Jawa dulu banyak tukangnya. Semua di sini dulu ikut. Bapak, kakak dan teman di sekitar sini," ungkapnya.

Bengkel kerajinan milik Nombling berlokasi di Jalan Wijaya Kusuma Gang II, Kelurahan Baler Bale Agung, Kecamatan Negara. Namanya Corak Bali Handycraft. Ia memulai bisnis kerajinan itu mulai dari tahun 2000. Pada zaman Bupati Winasa, ia mendapat pelatihan dan bantuan. Kini ia hanya melayani pesanan bijian. Itu pun kadang ada, kadang tidak.

"Sekarang susah sekali. Dulu zaman Pak Winasa, semua gampang," jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa baku dari pembuatan perak itu diambil di Kuta dengan berbagai model yang akan dibuatkan untuk pelanggan. Mulai dari model gandul dan cincin polos. Ia menegaskan bisa membuat semua model. Tergantung pesanan pelanggan. Harga jual satu cincin yang berbahan uang koin mulai Rp 100 ribu.
"Kalau perak tergantung gramnya, cincin perak per gram Rp 25 ribu. Kalau polos. Kalau ukiran bisa sampai Rp 40 ribu per gramnya," paparnya.

Nah, lesunya pembuatan perak juga dikarenakan banyaknya pihak yang sudah membuat cincin melalui casting atau pabrikan. Itu yang membuat sempoyongan perajin.

Contohnya saja, untuk membuat satu cincin, perajin perlu waktu tiga hari. Sedangkan untuk model ukiran, bisa sampai seminggu. Sedangkan apabila dikerjakan dengan sistem casting, hanya perlu waktu sehari, itupun bisa selesai 1.000 biji.

"Jadi kami kalah dengan yang ada dengan pabriknya," ungkapnya. (ang)

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Ni Ketut Sudiani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved