Selama Berabad-abad, Akhirnya Upacara Ini Digelar di Pura Dadia Agung Pasek Gelgel Pegatepan

Melasti dilaksanakan bertepatan dengan purnama kalima serangkaian Karya Agung Ngenteg Linggih, Tawur Balik Sumpah Agung, serta Pedudusan Manawa Ratna

Selama Berabad-abad, Akhirnya Upacara Ini Digelar di Pura Dadia Agung Pasek Gelgel Pegatepan
Tribun Bali / Eka Mita Suputra
Pangempon Pura Dadia Agung Pasek Gelgel ring Pegatepan, Desa Gelgel, Klungkung menggelar upacara melasti ke Segara Watu Klotok, Desa Tojan, Selasa (12/11). 

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Pangempon Pura Dadia Agung Pasek Gelgel ring Pegatepan, Desa Gelgel, Klungkung menggelar ritual melasti ke Segara Watu Klotok, Desa Tojan, Selasa (12/11/2019). Upacara ini masuk tingkatan utama yang selama berabad-abad belum pernah dilaksanakan di pura tersebut.

Melasti dilaksanakan bertepatan dengan purnama kalima serangkaian Karya Agung Ngenteg Linggih, Tawur Balik Sumpah Agung, serta Pedudusan Manawa Ratna yang puncaknya jatuh pada Tumpek Wayang, Sabtu (16/11/2019) mendatang.

"Berdasarkan informasi dari panglingsir, sudah berabad-abad tidak pernah dilaksankan upacara dengan tinggkatan utama seperti saat ini. Terakhir upacara serupa pernah dilaksanakan tahun 1989, tapi tingkatan upacaranya tidak sebesar saat ini," ujar ketua panitia karya, I Wayan Ardana.

Upacara melasti mulai dilaksanakan sekitar pukul 07.30 Wita yang diikuti belasan ribu warga dengan berjalan kaki lima kilometer. Krama mengiringi Pralingga Ida Bhatara hingga ke Pura Watu Klotok. Selain warga pengempon pura, upacara malasti ini juga diikuti ribuan warga atau semeton Pasek Songan dan Akah. Upacara ini dipuput 17 sulinggih atau pandita.

Selain melasti, upacara juga diisi dengan Nuur Tirta Kamandalu, Caru Mancasata Penengkeb Bebek Belang Kalung dan pakelem kambing, bebek selem, Namkit Sarandu Lan Bangkit Selem di tengah laut.

"Sweca Hyang Widhi, prosesi Nuur Tirta Kamandalu berjalan lancar dan akan digunakan untuk serangkaian prosesi hingga puncak Karya nantinya ," ungkapnya.

Prosesi Nuur Tirta Kamandalu ini sangat unik. Beberapa warga harus menaiki jukung ke tengah laut lalu menjatuhkan botol dalam keadaan tertutup rapat, dan terikat tali ke dalam laut. Prosesi Nuur Tirta Kamandalu tergolong berhasil, jika saat diangkat botol itu berisi tirta.

"Dengan prosesi ini, diharapkan tujuan utamanya kerahayuan jagad (kedamaian semesta)," kata pensiunan pejabat di Pemkab Gianyar ini. (*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: I Putu Darmendra
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved