Sang Putri Alami Tumor dan Lumpuh Tunggu Operasi, Ayah Silvia Azoya Kebingungan Cari Kerja

"Nanti kalau sudah ketahuan diagnosanya, saya terpaksa harus cari kerja di sini. Kalau ga memungkinkan ya saya harus pulang bolak-balik Lombok-Bali

Sang Putri Alami Tumor dan Lumpuh Tunggu Operasi, Ayah Silvia Azoya Kebingungan Cari Kerja
Tribun Bali/M. Firdian Sani
Silvia Azoya (4) berada dipangkuan ibunya, Siti Zaenab (30) di ruang Cempaka lantai 3 nomor 309 RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Kamis (14/11/2019). 

Ahmad mengungkapkan jika kondisi anaknya stabil biasanya bisa dilihat dari berat badannya.

"Ya kalau beratnya udah 11 kilogram biasanya dia uda stabil itu," ucapnya.

Ia menuturkan jika anaknya ini tergolong anak yang aktif.

"Kalau dia merasa sehat dia gak mau tiduran, dia ngesot gitu pingin jalan di lantai," ujar dia.

Berebut Poin, Laga Kontra PSIS Semarang VS Bali United Akan Beri Suguhan Menarik

Berfoto di Tengah Hamparan Edelweiss, Taman Jinja Tawarkan Keindahan Bak Taman Bunga Korea

Disbud Bali Suguhkan Dua Gelaran untuk Meriahkan Festival Tanjung Kelayang 2 di Kabupaten Belitung

Selain alami tumor, kaki Zoya ternyata lumpuh ke dua-duanya.

"Ia kedua kakinya uda gak bisa digerakin, dicubitpun keras-keras dia bakal gak kesakitan," katanya.

"Dia tumor dulu, setelah itu kakinya mulai kena juga. Dia ngerasa kayak kesemutan gitu awalnya, tapi dia tetap berusaha untuk jalan. Lama-kelamaan kakinya gak bisa gerak. Mangkanya dia kepingin kayak temen-temennya main di depan rumah. Dia kadang intip temen-temennya dari rumah, saya lihat dia sampai menangis karena pingin bisa jalan kayak temen-temennya itu," ceritanya.

Untuk saat ini, Zoya hanya mengonsumsi bubur, pepaya, dan susu yang sudah disediakan suster setiap harinya.

"Susunya itu minum setiap satu jam sekali, jadi satu hari 24 kali minum susu, tapi kadang gak habis juga. Kalau gak habis diambil lagi dikasih yang baru," paparnya sambil menunjukkan bungkusan susu yang diberi suster.

Bungkus susunya kecil-kecil namun harus rutin diminum setiap 1 jam sekali agar kondisi Zoya segera stabil.

Diberitakan sebelumnya, Silvia Azoya, bocah mungil penderita tumor asal Lombok Utara hanya bisa terbaring tak berdaya di ranjangnya saat ditemui Tribun Bali di sal Cempaka, Kamar 309, RSUP Sanglah Bali, Rabu (13/11/2019).

Bocah yang kini genap berusia empat tahun ini juga merupakan saksi hidup bencana gempa bumi yang mengguncang Lombok pada tahun 2018 silam, termasuk meratakan rumahnya.

Putri mungil pasangan Ahmad Sarbi (32) dan Siti Zaenab (30) ini tinggal di Kampung Pelelan, Dusun Kerurak, Desa Persiapan Segara Katon, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara.

Saat gempa itu terjadi, Zoya tengah dirawat intensif usai operasi biopsi di RSUP Mataram.

Bahkan, Zoya sempat dirawat di luar ruangan selama seminggu pasca gempa tersebut.

Selang tiga tahun sudah, tumor yang diidapnya di bagian tulang ekor dan perutnya tak kunjung mendapat penanganan segera dari tim medis.

Sang ayah, Ahmad Sarbi mengatakan tim dokter yang menangani di RSUP Mataram tidak bisa melakukan pengobatan lantaran keterbatasan alat medis.

Hingga akhirnya, pada sekitar akhir bulan September silam, Zoya dirujuk untuk dirawat di RSUP Sanglah Bali.

Zoya sendiri baru bisa dirawat di RSUP Sanglah pada Minggu (10/11) kemarin lantaran saat tinggal di Rumah Singgah tiba-tiba mengalami demam.

Usai diperiksa, Zoya dijadwalkan untuk operasi biopsi ulang untuk mengambil sampel tumor pada Rabu (13/11).

Sebelumnya, hasil operasi biopsi di RSUP Mataram mengatakan Zoya didiagnosis mengidap tumor jinak dan menderita gizi buruk.

''Tapi dipending lagi, katanya kondisi anak saya masih belum stabil. Rencana operasi biopsi ulang karena dokter ragu apakah benar ini tumor jinak,'' katanya kepada Tribun Bali.

''Kalau tumor jinak, rasanya gak mungkin separah ini. Kalau ganas juga kondisi tubuhnya masih sesegar itu. Makanya, mau dioperasi biopsi ulang,'' imbuhnya.

Daya tubuh Zoya sendiri masih tergolong kuat karena masih bisa melakukan aktivitas ringan seperti ngobrol, bermain hape, tertawa, berteriak-teriak kesakitan.

Namun, kedua kakinya tak bisa berfungsi normal.

''Gak bisa apa-apa dia, sejak umur 2 tahun itu dua hanya bisa tidur itupun miring aja. Kakinya udah kayak lumpuh, dicubit gak kerasa. Duduk maksimal kayak orang sujud aja, itu pun gak bisa lama. Kasian saya liatnya,'' tutur Ahmad.

Sebelumnya, dia masih bisa berlari dan bermain dengan sahabat dan teman sebayanya.

Untuk keperluan buang air pun sejak itu harus menggunakan kateter, tak jarang yang keluar bercampur nanah dan darah.

Jelang Laga Kontra Bali United, Coach Banur: Posisi Tidak Aman

Meski Permohonan Membludak, Polres Badung Tetap Buka Pendaftaran SKCK Jam 8 Pagi Hingga 3 Sore

Walaupun menyiratkan wajah pasrah, Ahmad Sarbi dan Siti Zaenab menyimpan harapan lebih anak perempuannya kembali sehat.

Ahmad yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh penggali batu ini tak henti berharap agar dokter bisa memulihkan anaknya seperti sedia kala.

''Dokter sini bilang katanya setelah pengambilan sampel dan ketemu diagnosa. Jika tumor jinak, nanti akan dioperasi besar-besaran. Kalo ganas ya nanti akan dikemo disini,'' katanya.

Praktis, diperkirakan anaknya akan menjalani perawatan intensif diperkirakan sampai memakan waktu selama 6 bulan.

Total sejak saat itu, tulang punggung keluarga ini harus mengorbankan seluruh waktu dan biaya ekstra demi kesembuhan sang buah hati.
Ahmad Sabri terpaksa harus rela tak bekerja.

Beruntung, keluarga kecil ini mendapat bantuan baik dari sanak, kolega juga pemerintahan dan yayasan setempat.

Untuk BPJS juga sudah ditanggung. Namun, untuk biaya sehari-hari seperti makan, minum, popok dan terutama selang kateter yang harus diganti secara reguler, keduanya tampak kelimpungan.

Cukup tak cukup mereka terus berusaha mencari sebisanya.

Meski Permohonan Membludak, Polres Badung Tetap Buka Pendaftaran SKCK Jam 8 Pagi Hingga 3 Sore

''Nanti kalau sudah ketahuan diagnosanya, saya terpaksa harus cari kerja di sini. Kalau ga memungkinkan ya saya harus pulang bolak-balik Lombok-Bali buat cari bekal,'' ungkapnya.

"Kami cuma bisa pasrah dan menjaga semangat hidup anak saya. Ya semoga kami dimudahkan jalannya. Mohon doa dan dukungannya juga buat semua," harapnya.

Hingga setahun berselang, anaknya tak kunjung mendapat penanganan segera hingga akhirnya baru dirujuk ke RSUP Sanglah sekarang. (*)

Penulis: M. Firdian Sani
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved