Kuasai 34 Paket Sabu, Nur Kholiq Dikenakan Dakwaan Alternatif

Merasa pendapatan kurang sebagai buruh bangunan, Nur Kholiq (30) nekat menjadi kurir narkotik

Kuasai 34 Paket Sabu, Nur Kholiq Dikenakan Dakwaan Alternatif
Net
Ilustrasi sabu-sabu 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Merasa pendapatan kurang sebagai buruh bangunan, Nur Kholiq (30) nekat menjadi kurir narkotik. Namun bekerja sebagai kurir narkotik tak berlangsung lama, karena Nur Kholiq keburu ditangkap petugas kepolisian.

Dari tangannya, petugas berhasil menyita barang bukti sabu-sabu sebanyak 34 paket dengan berat 40,79 gram netto. Juga 5 butir tablet warna biru PMMA seberat 1,38 gram netto.

Kini ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sebagai pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Senin (18/11).

Di persidangan dengan agenda pembacaan dakwaan, Jaksa Penuntut Umum (JPU)Ni Wayan Erawati Susina mendakwa Nur Kholiq dengan dalwaan alternatif. Terhadap dakwaan jaksa, terdalwa yang didampingi tim penasihat hukumnya dari Pos Bantuan Hukum (PBH) Peradi Denpasar tidak mengajukan eksepsi atau keberatan. Dengan tidak diajukan eksepsi, sidang akan dilanjutkan pekan depan, mengagendakan pemeriksaan keterangan para saksi.

Dijelaskan Jaksa Erawati dalam dakwaan kesatu, bahwa terdakwa tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar atau menyerahkan narkotik golongan I dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya melebihi 5 gram. Berupa metamfetamina seberat 40,79 gram netto dan 5 butir tablet warna biru PMMA seberat 1,38 gram netto.

"Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang RI No.35 tahun 2009 tentang Narkotik," jelasnya dihadapan majelis hakim pimpinan I Wayan Kawisada.

Atau kedua, terdakwa tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan narkotik golongan I dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya melebihi 5 gram. perbuatan Nur Kholiq dinilai melanggar Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang RI No.35 tahun 2009 tentang Narkotik.

Diungkap dalam surat dakwaan, ditangkapnya Nur Kholiq berawal dari tertangkapnya Rambu Ngana (terdakwa berkas terpisah) karena kedapatan memiliki sabu-sabu. Berdasarkan pengakuan Rambu yang menyebutkan mendapat sabu-sabu dari Nur Kholiq. Atas informasi itu petugas kepolisian meminta bantuan Rambu untuk memancing terdakwa dengan cara membeli sabu-sabu. Setelah mengantongi ciri-ciri terdakwa, petugas menyanggongi kos Rambu di Jalan Teuku Umar, Gang Perkutut, Dauh Puri Klod, Denpasar Barat, menunggu kedatangan terdakwa menyerahkan pesanan sabu.

Terdakwa pun datang dan menaruh dua plastik klip sabu di dekat pintu masuk kos Rambu. Lalu terdakwa menghubungi Rambu, memberitahukan jika sabu-sabu sudah ditaruh sesuai pesanan. Saat itu lah petugas melakukan penangkapan sekaligus menggeledah dan meminta terdakwa mengambil 2 paket sabu yang telah ditempelnya.

Kemudian dilakukan interogasi dan terdakwa menyatakan masih menyimpan sabu di sebuah lahan kosong di belakang kosnya di Jalan Raya Kuta, Kuta, Badung. Lalu petugas bergerak mengajak terdakwa ke tempat tersebut dan ditemukan 34 paket plastik klip berisi sabu-sabu, 5 tablet warna biru, timbangan elektrik dan barang bukti terkait lainnya. Kembali diinterogasi terdakwa mengaku bahwa narkotik tersebut milik Saud (DPO) dan mendapat upah Rp 50 ribu sekali tempel. CAN

Penulis: Putu Candra
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved