Petani Arak di Karangasem Berharap Usahanya Legal, Ini Kearifan Lokal yang Harus Ada Payung Hukumnya

Dari kementerian hingga pemerintah provinsi harus berjuang membela petani arak. Sebab arak adalah obat juga untuk terapi

Petani Arak di Karangasem Berharap Usahanya Legal, Ini Kearifan Lokal yang Harus Ada Payung Hukumnya
Istimewa
Petani arak di Desa Tri Eka Buana, Kecamatan Sidemen saat membuat arak, Senin (18/11/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, KARANGASEM - Produksi arak di Desa Tri Eka Buana, Kecamatan Sidemen menurun sejak musim kemarau yang dirasakan mulai lima bulan lalu. Penurunannya mencapai 50 persen. Biasanya petani arak menghasilkan 30 liter tiap hari, namun kini jad 15 liter.

Perbekel Desa Tri Eka Buana, Ketut Derka menjelaskan, produksi arak turun karena musim kemarau. Tirisan air kelapa sebagai bahan baku arak berkurang dibanding musim hujan. Sehari petani hanya mampu mengumpulkan beberapa liter saja.

"Produksinya menurun. Padahal permintaan arak Bali cukup tinggi di pasaran. Makanya petani kewalahan melayani permintaan," ungkap Derka, Rabu (20/11/2019).

Arak dari DesaTri Eka Buana didistribusikan ke Denpasar, Gianyar, Badung, bahkan sampai juga ke luar Bali. Permintaan arak tiap hari mencapai 2.500 liter. Hanya saja, petani arak di Tri Eka Buana hanya bisa memenuhi 1.500 liter.

"Kekurangannya 1.000 liter untuk tiap hari. Apalagi kondisi di musim seperti sekarang, petani hanya menghasilkn arak sedikit," ujarnya.

Proses pembuatan arak juga jadi pemicu turunnya produksi arak. Petani arak harus naik pohon kelapa setinggi sampai 20 meter. Dalam hal ini, nyawa menjadi taruhan. Sebab sekarang, jarang yang berani memanjat pohon tinggi-tinggi. 

Derka berharap, pemerintah provinsi dan kabupaten bernar-benar serius memperhatikan nasib petani arak di Desa Tri Eka Buana. Bentuk keperdulian bisa dilakukan dengan membuat peraturan yang berpihak kepada petani arak.

Tak bisa dipungkiri, petani arak sampai harus sembunyi-sembunyi dengan aparat saat mendistribusikan arak. Padahal jika dikelola dan dikonsumsi dengan baik, arak adalah kearifan lokal yang patut untuk dilestarikan.

"Kami berharap petani arak di Tri Eka Buana diperhatikan. Hampir 90 persen warga kami jadi petani arak. Dari kementerian hingga pemerintah provinsi harus berjuang membela petani arak. Sebab arak adalah obat untuk penyakit juga terapi," ujar Derka.

Kata Derka, pembuatan arak di Desa Tri Eka Buana merupakan warisan leluhur serta bagian dari tradisi yang harus dipertahankan. Pembuatan arak juga memiliki cerita dan sejarah yang melekat untuk warga lokal. Arak dalam hal ritual berfungsi untuk menetralisir energi bhuta kala. (*)

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Huda Miftachul Huda
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved