Tekuni Usaha Plakat dan Piala Dari Pis Bolong 

Ni Ketut Pujantika Suciani, Owner Pancadatu Souvenir, menyulap pis bolong jadi plakat

Tekuni Usaha Plakat dan Piala Dari Pis Bolong 
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Tekuni Usaha Plakat dan Piala Dari Pis Bolong  

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ni Ketut Pujantika Suciani, Owner Pancadatu Souvenir, menyulap pis bolong jadi plakat. Gadis asal Sukawati, Gianyar ini sudah sejak lama menekuni usaha menjual piala dan plakat dari uang kepeng atau pis bolong.

"Sudah sejak 5 tahun lalu, karena kebetulan saya punya ketrampilan membuat kerajinan dari pis bolong," katanya kepada Tribun Bali Rabu (20/11). 

Ia kemudian menginovasikan hal ini menjadi plakat dan piala yang khas dan unik. Ia membuat plakat dan piala ini, untuk dijual ke kampus, kantor, hingga sekolah. "Pis  bolong ini untuk diferensiasi produk saya. Karena buatnya juga tidak susah," katanya. 

Untuk yang paling kecil, ia hanya membutuhkan waktu sehari saja. "Selama bahannya lengkap, bahkan hitungan jam saja bisa selesai," katanya.

Ia mencari pis bolong dari Jawa. Prosesnya dijahit, dan alasnya dibuat dari kayu. Lalu ia kombinasikan dengan kulit wayang, agar terlihat kian unik dan klasik. 

Ia mendapatkan ide dan ketrampilan ini, setelah aktif di kegiatan kampus. "Jadi saya lihat banyak kegiatan, yang membutuhkan plakat dan piala. Jadi muncul ide usaha ini," katanya. 

Saat ini pelanggannya dari mahasiswa, instansi pemerintah, hingga kantoran dan sekolah. Bahkan termasuk komunitas juga. "Paling laku standar sih, tinggi maksimal 30 cm. Paling pendek itu 20 cm dan paling tinggi bisa sampai 80 cm. Yang paling tinggi biasanya untuk piala bergilir," katanya. 

Untuk yang ukuran 80 cm ini, biasanya ia memerlukan waktu membuat hingga beberapa hari. Tapi beruntung ia memiliki rekan yang membantu. Sementara untuk harga, yang paling murah adalah Rp 100 ribu dan paling mahal Rp 600 ribu. 

"Kalau untuk plakat biasanya dapat satu buah, kalau piala baru sepaket biasanya," katanya. Untuk piala harganya mulai Rp 300 ribu sampai Rp 650 ribu. Suci mengatakan suka duka dalam menjalankan bisnis ini,   menjadi pemacu dirinya berjuang.

"Kadang kendala di pemasaran produk. Lalu mentok di model yang sama. Apalagi mood juga mempengaruhi," ujarnya. Sementara kendala kompetitor tidak ada, karena produknya unik dan khas. 

Omzet rata rata per bulan Rp 3,5 juta sampai Rp 6 juta. Target ke depan, kata dia, tahun 2020 rencana akan dikembangkan usahanya ke suvenir dari pis bolong. "Buat wedding dan sebagainya," imbuhnya. Termasuk membuat tempat pensil dan dipasarkan. Promosi dilakukan lewat sosmed dan mengirim profil usaha ke klien. "Dukanya pas sepi dan dicancel, semoga ke depan lebih baik lah," imbuhnya. (ask)

Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved