Cegah Paham Radikalisme, Polda Bali Gelar Dialog Publik Sampaikan Ciri Orang Terpapar Radikalisme 

Enam faktor yang menyebabkan orang masuk dalam kelompok radikalisme, diantaranya faktor pemikiran, ekonomi, politik, sosial, psikologi dan pendidikan

Cegah Paham Radikalisme, Polda Bali Gelar Dialog Publik Sampaikan Ciri Orang Terpapar Radikalisme 
Dok. Humas Polda Bali
Direktorat Binmas Polda Bali menggelar kegiatan dialog publik dengan para santri dan alim ulama di Hotel Hawaina, Banyuasri, Buleleng, Minggu (24/11/2019). 

TRIBUN BALI.COM, BULELENG - Dalam rangka meningkatkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air serta menolak paham radikalisme di Pulau Dewata.

Direktorat Binmas Polda Bali menggelar kegiatan dialog publik dengan para santri dan alim ulama di Hotel Hawaina, Banyuasri, Buleleng, Minggu (24/11/2019) kemarin.

Tema yang diusung adalah “Meneguhkan Ideologi Pancasila, Menolak Paham Khilafah dan Radikalisme Demi Keutuhan NKRI”. 

Kegiatan ini mendatangkan tiga narasumber, antara lain Kasubdit Bintibsos Ditbinmas Polda Bali, AKBP Moh. Asharianto, Ketua PCNU Kabupaten Buleleng H. Rahmat Al Baihaki dan Dewa Ketut Surawijaya dari Kesbangpol Provinsi Bali.

BMKG Prediksi Enam Kota di Bali Cerah Hari Ini, Berikut Prakiraan Cuaca Selengkapnya

POPULER: Mimpi Berbicara dengan Orang yang Sudah Meninggal I Ahok Jadi Komut Pertamina

Pada kesempatan tersebut, AKBP Asharianto menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang sudah terpapar paham radikalisme dan faktor yang mempengaruhi orang berbuat radikal.

Menurutnya, penyebaran paham radikalisme oleh kelompok tertentu di Indonesia harus diwaspadai. 

Bahkan para mahasiswa di perguruan tinggi negeri maupun swasta sangat berpotensi terpapar radikalisme

"Ciri-ciri orang yang patut dicurigai sebagai kelompok radikalisme, yakni mendadak anti sosial, menghabiskan waktu dengan komunitas yang dirahasiakan, mengalami sikap emosional ketika berbicara seputar pandangan politik dan keagamaan, mengungkapkan kecurigaan dan kritik berlebihan terhadap praktek masyarakat secara umum serta memutus komunikasi dengan orang tua dan keluarga,” terang AKBP Asharianto, melalui keterangan tertulisnya, Senin (25/11/2019).

Kemudian faktor apa saja yang mempengaruhi orang berbuat radikal?

Kasubdit Bintibsos Ditbinmas Polda Bali ini menjelaskan bahwa ada enam faktor yang menyebabkan orang masuk dalam kelompok radikalisme, diantaranya faktor pemikiran, ekonomi, politik, sosial, psikologi dan faktor pendidikan.

“Orang yang memiliki masalah ekonomi akan memiliki pemikiran yang lemah dan sempit, sehingga mudah percaya pada tokoh-tokoh yang radikal karena dianggap dapat membawa perubahan derastis pada hidup mereka. Selain itu, pendidikan yang salah oleh tenaga pendidik dengan memberikan ajaran yang salah juga menjadi sumber penyebab orang menjadi radikal,” ujarnya.

Perwira melati dua di pundak ini menegaskan, pencegahan radikalisme dapat dilakukan dengan meningkatkan toleransi antar umat beragama karena bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, agama dan ras.

Nominalnya Dinilai Terlalu Kecil, DLH Bangli Berencana Naikkan Tarif Retribusi Sampah

Pelamar CPNS di Klungkung Membludak, Seratus Berkas Lamaran Pendaftaran Dicoret, Begini Sebabnya

Menurutnya, sifat toleransi harus dipupuk dan diperkuat untuk mengajarkan artinya hidup bersama-sama dalam bermasyarakat dan bernegara yang penuh akan keberagaman.

“Menjaga persatuan dan kesatuan juga bisa dilakukan sebagai upaya untuk mencegah pemahaman radikalisme dan tindakan terorisme di kalangan masyarakat. Hal yang harus dilakukan adalah memahami dan menjalankan nilai-nilai yang terkandung dalam butir-butir Pancasila,” imbuhnya. (*)

Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Meika Pestaria Tumanggor
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved