Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

POPULER: Mimpi Berbicara dengan Orang yang Sudah Meninggal I Ahok Jadi Komut Pertamina

berita populer di tribun-bali.com, mulai dari 15 arti mimpi buruk, seperti mimpi berbicara dengan orang yang sudah meninggal.

Tayang:
Ganendra
Ilustrasi mimpi buruk 

TRIBUN-BALI.COM - Mimpi buruk seringkali menjadi pikiran saat terbangun dari tidur. 

Apalagi ketika mimpi tersebut terjadi sebelum Anda memulai sesuatu hal penting dalam aktivitas.

Berikut 15 arti mimpi buruk yang sering terjadi di dalam tidur: 

1. Mimpi bertengkar dengan ibu mertua : Harus sabar dan berhati-hati dalam pekerjaan.

2. Mimpi bertengkar dengan isteri : Akan terganggu kesehatannya.

3. Mimpi bertengkar dengan seorang tetangga : Suatu tanda peringatan jangan mudah marah.

4. Mimpi berurusan dengan bajak laut : Alamat anda harus berhati-hati.

5. Mimpi berurusan dengan polisi : Alamat terjadi perselisihan paham.

6. Mimpi berurusan dengan seorang biarawati : Akan terjadi suatu perubahan dalam kedudukan atau pekerjaan.

7. Mimpi dikejar orang jahat di sebuah gang : Akan muncul sesuatu yang kurang baik / memalukan.

8. Mimpi dikelilingi gadis-gadis yang tertawa : Akan dicemooh orang.

9. Mimpi dikurung dalam sebuah penjara bawah tanah : Alamat akan dikunjungi famili yang dibenci.

10. Mimpi dimurkai guru: Alamat akan dimarahi oleh atasannya.

11. Mimpi dipenjara dan lambat keluarnya : Akan bangkrut dan jatuh miskin.

12.Mimpi dipenjara secara tidak adil : Alamat orang lain tidak mempercayai anda.

13. Mimpi diri anda sakit : Akan ada godaan besar yang menimpa anda.

14. Mimpi diri sendiri bermata buta : Anda harus berhati-hati dalam pekerjaan.

15. Mimpi dirinya bercakap-cakap dengan orang mati. Akan sia-sia pekerjaannya dan cita-citanya gagal.

Selain arti mimpi, berita populer lainnya di tribun-bali.com adalah tentang Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir sebagai komisaris utama (komut) Pertamina. 

Penunjukkan mantan Gubernur DKI Jakarta, Ahok sebagai komut Pertamina oleh Jokowi dan Erick Thohir yang menuai pro dan kontra belakangan ini bukan tanpa alasan. 

Memaknai lebih dalam, peneliti Alpha Research Database Indonesia Ferdy Hasiman membeberkan alasan di balik pemilihan Ahok dijajaran Pertamina

Dilansir via Kompas.com, Ferdy Hasiman berpendapat, Ahok yang notabene-nya adalah seorang eksekutor lebih cocok menjadi Direktur Utama.

Sementara tugas komisaris bukan di operasional, tetapi melakukan pengawasan terhadap direksi dan mengevaluasi program kerja.

Meski demikian, Ferdy menyebut bahwa nama Ahok tetap bisa menggentarkan para mafia.

"Meskipun komut, para mafia harus hati-hati, karena penunjukan Ahok adalah upaya Jokowi berperang melawan mafia migas yang sudah lama bercokol di Pertamina," kata Ferdy dalam siaran pers, Minggu (24/11/2019).

Menurut dia, posisi komut bagi Ahok penting untuk mencegah intervensi non-korporasi, intervensi politik, maupun intervensi mafia ke Pertamina.

Sebab Komut lah yang akan mengevaluasi dan mengawasi kerja direktur utama.

Oleh karena itu, para direktur juga disarankan untuk bekerja dengan baik, mengingat Ahok berani mengeksekusi.

"Direktur-Direktur Pertamina juga harus bekerja dengan baik, karena Ahok itu berani menelanjangi Dirut berkinerja buruk ke publik. Sama seperti ia menelanjangi para koruptor ke publik," ucapnya.

Di sisi lain kata Ferdy, dipilihnya Ahok sebagai Komisaris Utama Pertamina karena Jokowi belajar dari kegagalan Pertamina melakukan peremajaan kilang Balongan, kilang Cilacap, Kilang Duri, dan beberapa kilang lainnya untuk mengurangi impor.

"Jokowi juga belajar, percuma saja menempatkan komisaris mantan petinggi militer dan mantan menteri BUMN di Pertamina, tetapi tidak bisa membantu dalam proses pengawasan," tutur Ferdy.

Direktur-direktur yang sebelumnya pernah menjabat, belum menunjukkan kinerja apik karena produksi minyak dan gas turun.

Padahal, Presiden telah memberikan hak kelola Blok Mahakam dari total E&P.

Begitu pun Blok Rokan dari Chevron Indonesia dan beberapa blok Migas yang dioperatori pihak asing ke Pertamina.

"Untuk itulah, Ahok yang menjadi tangan kanan Presiden Jokowi di Pertamina wajib hukumnya berperang melawan mafia," sebutnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved