Petani Harus Sejahtera dari Industri Alkohol Lokal, Bea Cukai Pakai 2 Skema Legalkan Arak Bali

Skema yang nantinya akan digunakan untuk memfasilitasi produksi MMEA tradisional arak, yang pertama adalah dengan skema Orang Tua Asuh.

Petani Harus Sejahtera dari Industri Alkohol Lokal, Bea Cukai Pakai 2 Skema Legalkan Arak Bali
Tribun Bali/Nyoman Mahayasa
Ilustrasi minuman beraklohol - arak Bali. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Bea Cukai Bali Nusra berinisiatif menggandeng Pemerintah Provinsi Bali untuk memfasilitasi petani Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) tradisional, khusunya arak Bali.

Untuk melegalkan industri arak Bali, Bea Cukai menyiapkan dua skema.

"Kami ingin meningkatkan kesejahteraan petani arak. Konsumsi minuman beralkohol di Bali tinggi, dan minuman beralkohol masih dinominasi oleh minuman impor,” ungkap Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kanwil Bea Cukai Bali Nusra, Sulaiman, di kantornya, Selasa (26/11/2019).

Ia katakan, perkembangan minuman fermentasi beralkohol asli Bali kian populer.

Tak hanya sekadar bisa dinikmati pada acara budaya dan adat saja, namun juga oleh masyarakat secara luas.

Skema yang nantinya akan digunakan untuk memfasilitasi produksi MMEA tradisional arak, yang pertama adalah dengan skema Orang Tua Asuh.

Dalam skema ini, petani yang selama ini membuat bahan baku arak Bali akan dikumpulkan dalam suatu wadah Koperasi Subak atau Desa Arak.

Koperasi inilah yang akan berperan untuk mengumpulkan bahan baku Arak dari petani-petani lokal.

Selanjutnya dari Koperasi Subak Arak ini akan menyalurkan Bahan Baku ke pabrik yang mempunyai ijin operasi untuk pengolahan dan pengemasan lebih lanjut.

“Pabrik yang dimaksud di sini adalah pabrik yang telah berizin dan memiliki Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC),” jelas Sulaiman.

Suasana media briefing mengenai cukai pada MMEA dan arak Bali, Selasa (26/11/2019).
Bea Cukai Bali Nusra menggandeng Pemerintah Provinsi Bali untuk memfasilitasi petani Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) tradisional, khusunya arak Bali, Selasa (26/11/2019). Ini agar para petani arak di Bali bisa hidup lebih sejahtera dari industri kearifan lokalnya. . (tribun bali/zaenal nur arifin)
Halaman
12
Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved