Kontes Pelangi Bonsai tingkat nasional di Tabanan Tampilkan 370 Bonsai

Ratusan pohon bonsai tampak berjejer rapi di Lapangan Alit Saputra, Tabanan, Bali, Selasa (2/12/2019).

Kontes Pelangi Bonsai tingkat nasional di Tabanan Tampilkan 370 Bonsai
TRIBUN BALI/I MADE PRASETIA ARYAWAN
KONTES - Sejumlah pengunjung tampak memperhatikan salah-satu bonsai di areal kontes pelangi bonsai Tabanan di Lapangan Alit Saputra, Tabanan, Bali, Senin (2/12/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Ratusan pohon bonsai tampak berjejer rapi di Lapangan Alit Saputra, Tabanan, Bali, Selasa (2/12/2019). Sejumlah masyarakat yang hobi dengan tanaman unik ini juga sudah mulai mengunjungi lokasi untuk melihat keindahannya. 

Kontes Pelangi Bonsai tingkat nasional ke-4 yang digelar sejak 1 hingga 8 Desember mendatang ini menampilkan 370 pohon bonsai. Selain itu, harganya juga bervariasi baik mulai ratusan ribu hingga ratusan juta bahkan miliaran. 

Menurut pantauan Tribun Bali, ratusan pohon bonsai ini dibedakan sesuai dengan empat kelas berbeda mulai dari kelas prospek, regional, madya, dan utama. Dan dari jumlah ratusan bonsai ini juga berasal dari wilayah berbeda. Hanya saja maish didominasi dari Tabanan dan luar Bali yakni Jawa khususnya Jawa Timur dan Jawa Barat. 

Adapun jenis pohon yang dilombakan seperti Ficus (Beringin), Santigi, Cemara. Selain itu juga ada jenis sianci, jeruk kingkit, asem, serut (perungut), loa, cemara udang, kawista, ranting putri, ulmus, sancang, delima batu, dewandaru, mustam, dan banyak jenis lainnya. 

“Pameran Nasional (Pamnas bonsai) yang ke-4 di Tabanan serangkaian HUT Kota Tabanan ke-526,” ujar Wakil Ketua PPBI Cabang Tabanan, Made Bakti.

Made Bakti menyebutkan, jumlah peserta yang ikut kontes menampilkan sebanyak 370 pohon bonsai dengan empat kelas berbeda yakni dimulai dari kelas utama, di mana bonsai sudah tidak menggunakan alat bantu seperti kawat dan sudah pernah mengikuti kelas-kelas sebelumnya seperti madya.

Kemudian, kelas madya yang artinya bonsai yang sudah melewati kelas regional dan prospek. Yang termasuk kelas ini masih bisa menggunakan alat bantu tapi sudah melewati atau sudah pernah ikut kontes di kelas sebelumnya seperti regional.

“Kemudian untuk kelas regional juga masih menggunakan alat bantu, sudah jadi bonsai, gerak dasar sudah ada dan prosesnya sudah mencapai 60 persen. Dan untuk kelas prospek artinya bahannya baru diperoleh namun sudah tumbuh dan biasanya sudah berbentuk tapi belum sempurna,” jelas Bakti.

Disingung mengenai perawatan bonsai, Bakti menuturkan untuk perawatan bonsai harus dilandasi dengan kesabaran dan konsistensi yang tinggi. Seperti dari awal dengan melakukan pemupukan rutin, kemudian ada untuk pencegahan hama rutin, dan ada proses pangkas daun, proses pembentukan cabang atau ranting, pematangan pohon pada akar, media tanam dikondisikan agar tetap subur.

“Yang paling penting adalah proses penyiraman yang rutin dan konsisten sehingga tumbuhan bonsai tidak sampai kekurangan asupan air,” jelasnya.

Sementara itu, Dewan Juri PPBI Pusat Kontes Bonsai Tabanan, Tatang mengatakan, proses penilaian kontes bonsai ini sudah akan berlangsung sejak hari pertama. 

“Ada empat kolom dalam kriteria penilaian bonsai sehingga juri harus benar-benar teliti sekali saat melakukan penilaiannya agar hasilnya nanti tidak mengecewakan,” jelasnya. (mpa)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Ni Ketut Sudiani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved