Perbekel Jadi Ujung Tombak di Desa, Kapolres Klungkung Sampaikan Pesan Cegah Radikalisme

Kapolres Klungkung AKBP I Komang Sudana meminta para perbekel atau tokoh masyarakat sebagai ujung tombak di desa, membina warga untuk menjaga keamanan

Perbekel Jadi Ujung Tombak di Desa, Kapolres Klungkung Sampaikan Pesan Cegah Radikalisme
Dok. Polres Klungkung
Kapolres Klungking AKBP I Komang Sudana ketika memberikan sosialisasi tentang pencegahan paham radikalisme dan intoleran kepada para perbekel dan tokoh masyarakat di Klungkung. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Paham radikalisme dan intoleransi menjadi momok bagi seluruh lapisan masyarakat, tidak ketercuali dikalangan perbekel dan tokoh masyarakat.

Mengantisipasi penyebaran paham radikalisme dan intoleransi, Polres Klungkung pun mengadakan sosialisasi tentang kewaspadaan masyarakat terhadap paham radikal, intoleransi, dan gerakan yang mengarah kepada anti Pancasila.

Kegiatan ini digelar di ruang rapat Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Klungkung.

Selain Kapolres Klungkung AKBP I Komang Sudana, kegiatan ini juga dihadiri Bupati I Nyoman Suwirta dan Kepala Kesbangpol Klungkung I Wayan Sujana.

Dalam pemaparannya, Kapolres Klungkung AKBP I Komang Sudana meminta para perbekel atau tokoh masyarakat sebagai ujung tombak di desa, membina warga untuk menjaga keamanan di wilayahnya.

Apa yang Dilakukan pada Anjing Lokal di Pantai Kuta Ini? Citadines Kuta Beach Bali Peduli

Pariwisata Sepi, Okupansi Hotel di Gianyar Menyentuh 40 Persen, PHRI: Itu Artinya Kecil Sekali

Misalnya mendata dan mengetahui latar belakang para pendatang serta mengajak warganya untuk saling menghargai dan menerima perbedaan yang ada.

Serta mengarahkan warganya agar tidak mudah terhasut oleh berita yang berpotensi menimbulkan perpecahan di masyarakat.

Jika para perbekel atau tokoh masyarakat menemukan pihak-pihak yang berpotensi menimbulkan konflik, agar sesegera mungkin koordinasikan dengan Babinkamtibmas ataupun Babinsa yang ada di desanya guna mendapat tindak lanjut dari pihak terkait.

"Perbedaan memang diciptakan untuk membuat kita saling menghargai dan menerima perbedaan satu sama lain baik dari segi adat, budaya dan agama," ungkap Komang Sudana.

Pihaknya juga melihat, perkembangan media sosial menjadi cara baru untuk menyebarkan paham radikalisme ke masyarakat.

Sehingga Sudana berharap masyarakat lebih cerdas dalam menggunakan media sosial.

Apalagi segala jenis informasi dapat disajikan langsung melalui internet sehingga banyak pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab memanfaatkan itu sebagai alat menyebarkan berita-berita hoax maupun, isu sara yang menimbulkan perpecahan.

"Karena melalui media sosial, benih intoleran sangat mudah timbul dan hal tersebut pastinya akan dimanfaatkan oleh pihak pihak tertentu untuk kepentingan pribadi dengan cara menebar ujaran kebencian, sehingga masyarakat sangat mudah terhasut dan terprovokasi sehingga terciptalah perpecahan," ujarnya. (*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Meika Pestaria Tumanggor
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved